

inNalar.com – Setelah kemerdekaan, Belanda kembali ke Indonesia untuk menjajah. Tak hanya tinggal diam, Soeharto dan para punggawa TNI merancang sebuah serangan.
Daerah jajahan yang menjadi sentral Belanda waktu itu adalah ibu kota Yogyakarta. Pada saat yang sama masyarakat Yogyakarta sudah tidak mempercayai TNI.
Kepercayaan terhadap TNI yang mulai menurun dilihat oleh Soeharto, dan ingin mengembalikan semangat kepercayaan tersebut.
Alhasil, Soeharto merencanakan sebuah serangan yang selama ini kita kenal dengan Supersemar.
Serangan Umum 1 maret, menjadi satu kejadian yang historis bagi Republik Indonesia maupun Soeharto sendiri.
Dalam kejadian Supersemar tersebut, diketahui Soeharto mampu membangkitkan kembali moral dan mental TNI setelah adanya agresi Belanda II.
Setidaknya Soeharto memberikan semangat berupa motivasi dan modal argumentasi bagi perwakilan putra bangsa yang menghadiri sidang PBB kala itu.
Bagaimana tidak, pasca adanya supersemar, Yogyakarta mampu dikuasai oleh TNI selama 12 jam. Namun, pemberitaan terkait hal itu sudah tersebar luas ke dunia Internasional.
Pengakuan yang dibutuhkan untuk melanggengkan kedigdayaan dan kemerdekaan Republik Indonesia sangatlah dibutuhkan. Terlebih di hadapan United Nations.
Baca Juga: Terpanjang di Dunia! Jalan Tol di Bali Ini Mengapung di Atas Ombak Laut, Full Karya Anak Bangsa
Diketahui pula, bahwa kejadian supersemar ini telah membuat Soeharto melenggang menjadi orang nomor satu di Republik ini.
Supersemar yang ikonik, menjadi bahan Soeharto untuk menjadi Presiden kedua Republik Indonesia.
Bahkan, ditulis dalam otobiografinya Soeharto seperti menjadi orang satu-satunya yang dapat menyeruak masuk menjadi pengagas Supersemar.
Pengakuan Soeharto Tentang Supersemar
Aksi ke-otoriteran yang ditunjukkan Soeharto dan citra yang dibentuk sebagai ‘one man show’ dalam peristiwa Supersemar sangatlah ditunjukkan kepada publik saat itu.
Soeharto mengaku sebagai satu-satunya orang yang menggagas adanya peristiwa Supersemar.
“Rakyat Yogyakarta sudah tidak lagi mempercayai TNI. Disitu otak saya berputar untuk berpikir bagaimana cara mengembalikan citra TNI terhadap masyarakat Yogyakarta,” ujar Soeharto dikutip dari Dwipayana dan Ramadhan 1989:58.
Pengakuannya tersebut tergambar dari film Janur Kuning yang melegenda. Film yang diproduksi pada masa orba tersebut memberikan penegasan bahwa Soeharto lah yang memiliki jasa paling besar.
Diketahui Janur Kuning yang menjadi judul film tersebut merupakan salah satu bukti yang dijadikan sebagai tanda pengenal TNI ketika supersemar berjalan.
Janur kuning tersebut diletakkan di pakaian TNI yang akan bertugas. Agar mereka mengetahui mana kawan mana lawan.
Siapa Penggagas Supersemar Sebenarnya
Dalam keterangan yang disadur dari buku Biografi Daripada Soeharto nama-nama penting seperti, Nasution, T.B. Simatupang, (Ketua dan wakil Pemegang Komando TNI di Jawa).
Lalu ada Bambang Sugeng, (selaku Panglima Divisi III), serta Sri Sultan Hamengkubuwono IX (Keraton Yogyakarta). Nama besar tersebut sengaja dihilangkan dalam versinya Soeharto.
Hanya nama besar Soeharto yang menjadi penggagas dan perancang strategi Supersemar yang ikonik itu.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi