Penolakan Terhadap Penyerahan Kekuasan Belanda, Sultan HB IX Murka Terhadap Soeharto, Kenapa?

inNalar.com – Dampak dari Serangan Umum 1 Maret (Supersemar) yang digagas Soeharto begitu besar terhadap pendudukan Belanda di Republik Indonesia.

Terutama di Yogyakarta Ibu Kota RIS saat itu. Soeharto yang menjadi komandan militer di Yogyakarta berperan besar terhadap perjuangan rakyat Indonesia kala itu.

Berbagai pujian yang didapatkan Soeharto atas kegemilangannya dalam merebut kekuasaan yang ada di Yogyakarta terhadap Belanda.

Baca Juga: Supersemar Soeharto Peristiwa Kebangkitan Kedigdayaan TNI, Ada Peran Janur Kuning Apa Itu?

Dunia Internasional pun alih-alih mendukung, kini malah mengecam Belanda atas tindakan kolonialisme yang dilakukan di Republik Indonesia.

Bahkan sekutu Belanda, Amerika Serikat menjadi negara yang paling keras dalam menyuarakan kemunduran Belanda dari Bumi Pertiwi.

Efek supersemar juga berdampak terhadap para pejuang di dalam negeri. Para militer seperti memiliki ‘roh’ baru dalam menjalankan penumpasan terhadap musuh.

Baca Juga: Dibangun 1971, Bendungan Megah di Ciamis yang Aliri Lahan 26.162 ha Ini Simpan Mitos Hewan Keramat, Penasaran?

Gairah yang terinspirasi dari Supersemar Soeharto membuat perlawanan di berbagai daerah semakin bergejolak. Serangan Gerilya semakin menjadi-jadi bahkan dilakukan di siang hari.

Tak hanya militer, para politisi yang sudah diasingkan ke Bangka Belitung kembali memiliki gairah dalam merebut kekuasaan Republik Indonesia yang telah diambil kedua kalinya.

Mereka pun menolak kerjasama terhadap Belanda, terkait negoisasi yang dijalankan dalam merebut kekuasaan.

Baca Juga: 3 Kecamatan di Kabupaten Pandeglang Banten Ini Peroleh Dana Desa Belasan Miliaran, Cek Daerah Mana Saja!

Atas capaian yang dilakukan oleh Soeharto tersebut. Jenderal Besar Soedirman mengirimkan surat berupa pujian terhadap Soeharto. Beliau menyebutnya ‘bunga pertempuran’ dikutip dari PDAT 1998:66.

Insiden Penolakan Penyerahan Kekuasaan Oleh Belanda

Setelah tidak adanya dukungan dari dunia Internasional, yang bahkan oleh sekutu kuatnya Amerika Serikat. 

Belanda seolah kehilangan semangat dan ‘roh’nya dalam menguasai Indonesia untuk kedua kalinya.

Pada akhirnya pada tanggal 7 Mei 1949 muncullah perjanjian Roem-Royen yang dikenal sebagai konferensi untuk mengatasi gencatan senjata yang terjadi di Republik Indonesia.

Tak hanya gencatan senjata, perjanjian dalam pembebasan tokoh politik Presiden dan Wakil Presiden juga menjadi salah satu poin penting konferensi tersebut.

Dilanjutkan dengan pertemuan di Den Haag dalam rangka (KMB) Konferensi Meja Bundar untuk mengatasi permasalahan tentang penyerahan hak kedaulatan terhadap Indonesia.

Setelah adanya konferensi yang dilakukan serta pertemuan yang membahas penyerahan kekuasaan tidak serta merta perlawanan di berbagai daerah pun padam.

Berbekal dari pengalaman lampau para militer yang dikomandoi oleh Nasution, Soeharto, Djatikusumo dan para petinggi militer yang lain menyerukan untuk terus melakukan perjuangan.

Hal ini menjadi salah satu alasan penolakan Soeharto ketika Belanda ingin menyerahkan kedaulatan Republik Indonesia yang akan diwakilkan oleh Sultan HB IX kala itu.

Atas dasar itulah pada akhirnya Soeharto menyamar bertemu dengan Sultan HB IX untuk menyatakan alasannya menolak penyerahan kekuasaan.***

Rekomendasi