Harta Soeharto yang Membentang dari Jakarta Sampai Bogor, Tol Jagorawi Dibangun dengan Dana Pinjaman?

inNalar.com – Soeharto merupakan mantan presiden Republik Indonesia yang ‘paling lama’ menduduki jabatan.

Selama 32 tahun masa kepemimpinannya, Soeharto berhasil mendirikan jalan tol bersejarah yang masih digunakan sampai sekarang.

Jalan bersejarah tersebut merupakan harta peninggalan Soeharto yang membentang dari Jakarta, Bogor, hingga ke Ciawi.

Baca Juga: Proyek Jembatan Rp2,14 Miliar di Takalar Sulawesi Selatan Pembangunannya Butuh Monitoring Ketat, Kenapa?

Disingkat menjadi Jagorawi, harta peninggalan Soeharto tersebut merupakan jalan tol pertama di Indonesia.

Dilansir inNalar.com dari jurnal ilmu sejarah berjudul “Dinamika Pembangunan Tol Jagorawi 1978-1979”, berikut faktanya.

Sudah Direncanakan Sejak Tahun 1955

Jalan pintas atau jalan cepat yang menghubungkan DKI Jakarta dengan Bogor telah diwacanakan pada tahun 1955.

Baca Juga: Kucuran Rp220,6 Miliar, Pembangunan Jembatan di Kalimantan Timur Mangkrak Sejak Tahun 2014, Benarkah?

Namun, pembangunan tol tersebut baru direncanakan dengan pasti pada tahun 1963, dan baru resmi pada tahun 1978-1979.

Menteri PU dan Kelistrikan Ir. Sutami memiliki banyak peran dalam pembangunan jalan cepat ini.

Ia mendorong Soeharto untuk segera melaksanakan proyek ini mengingat jalanan Jakarta sudah sangat padat.

Baca Juga: 12 Tahun Tak Tembus, Iron Dome Israel Jebol Gegara Strategi Cerdas Hamas, Dunia Mendadak Dibikin Melongo!

Dibangun dengan Dana Pinjaman 40 Persen

Pembangunan jalan cepat ini benar-benar terjadi setelah Amerika Serikat berencana membangun pabrik semen Kaiser Cement di Cibinong.

Atas dasar keuntungan bisnisnya nanti, Amerika Serikat menawarkan dana pinjaman untuk merealisasikan pembangunan tol Jakarta-Bogor.

Proyek ini terlaksana dengan skema pendanaan berupa bantuan pinjaman sebesar 40 persen, dan dana APBN sebesar 60 persen.

Melibatkan Tenaga Kerja Asing

Meski menjadi yang pertama, bukan berarti lantas menjadi yang lebih dulu rapuh.

Tol Jagorawi, nyatanya hingga saat ini dianggap sebagai jalan cepat berkualitas terbaik.

Hal ini disebabkan kekuatan dan ketelitian yang dikerahkan oleh pekerja proyek dari negara asing.

Saat itu, pembangunan tol Jagorawi diawasi oleh perusahaan Amman-Whitney, Trans Asia Engineering dari Amerika Serikat.

Perusahaan konstruksi didatangkan langsung dari Korea Selatan, yaitu Hyundai Constructions Ltd, Co.

Tenaga kerja tol Jakarta-Bogor ini juga melibatkan pemuda tanah air dari Bina Marga yang kemudian mendominasi jumlah pekerja.

Menelan Korban Jiwa

Total keseluruhan pekerja asing maupun domestik kala itu mencapai tiga ribu orang.

21 orang di antaranya meninggal saat proses pembangunan, yakni 20 orang warga Indonesia dan 1 orang warga Korea Selatan.

Saat jalan tol Jagorawi ini diresmikan, Soeharto memberikan sejumlah bantuan kepada keluarga korban.

Sempat Ditentang Rakyat

Rakyat pada masa itu belum mengenal jalan tol, karena ini yang pertama kalinya bagi mereka.

Pada awal peresmian tol Jagorawi, masyarakat setempat yang masih belum menerima sampai tega melempari kaca mobil yang melintas dengan batu.

Tak hanya itu, ibu-ibu yang membeli sayuran memilih menyebrang melewati tol, begitu pula warga yang menggembala ternaknya.

Hal ini disebabkan tol Jagorawi yang dibangun dengan ‘membelah’ pemukiman warga yang sudah lebih dulu ada.

Namun lama kelamaan, warga setempat sudah mulai terbiasa dengan jalanan aspal di sekitarnya. ***

 

Rekomendasi