

inNalar.com – Apabila kita mengulik kembali saat menjelang Presiden Soeharto membacakan pidato pengunduran diri di Istana Merdeka, Jakarta.
Wajah tegang para menteri yang mendampingi Presiden Soeharto terlihat begitu jelas, begitu juga dengan Wakil Presiden Habibie yang kala itu mendampinginya.
Namun bagaimana dengan kondisi psikologis Soeharto yang terkenal memiliki sikap ‘koppig’ atau keras kepala dan tegas?
Sosok presiden yang akhirnya memilih untuk memenuhi keinginan rakyatnya dan pada kali itu ia putuskan untuk menekan egoismenya terhadap kekuasaan.
Soeharto seolah mengalah pada rentetan kondisi seperti krisis moneter, kebakaran hutan hebat di Kalimantan, serangan hama, hingga musim kemarau berkepanjangan yang menumbangkan berbagai lini sektor ekonomi Indonesia kala itu.
Upaya terakhirnya dalam mengusahakan reshuffle menteri menuju kabinet ‘Reformasi’ berakhir sebab 14 menteri memilih untuk tidak berada di pihaknya lagi usai dirinya menduduki kekuasaan selama 32 tahun.
Baca Juga: Teka-teki Mati, Anak Soeharto Jadi Dalang Kasus Korupsi Bahkan Pembunuhan Hakim, Siapa Korbannya?
Situasi yang sulit bagi Presiden Soeharto kala itu, kebijakan IMF yang justru membuat kondisi ekonomi Indonesia kian tercekik, hingga penolakan para kawan politiknya untuk masuk ke dalam kabinetnya.
Hal ini kemudian memunculkan sikap ‘paranoid’ dalam dirinya dan mulai berpikir mengenai adanya dugaan kudeta terstruktur terhadapnya.
Rupanya malam sebelum penyampaian pidato pengunduran diri Soeharto sebagai presiden, Habibie tidak mengetahui akan hal ini.
Baca Juga: Telan Dana Rp88 Miliar, Kota Bogor Jawa Barat Bakal Punya Jembatan Layang Baru, Lokasinya Ada di…
Sikap paranoid merasa ditinggalkan oleh ke-14 menterinya ini membuat dirinya menaruh kecurigaan kepada Habibie.
Para pengamat menduga bahwa dasar kecurigaan Soeharto pada Habibie diduga karena ada pertemuan yang diselenggarakan wakil presidennya dengan para menteri di kediamannya.
Namun hingga kini semuanya masih sekadar dugaan semata. Namun bagi Soeharto, momen tersebut adalah bagian dari kenangan yang cukup menekan psikologisnya.
Sikap paranoid tersebut membuat Soeharto diketahui mendiamkan Habibie, karena menaruh prasangka buruk terhadap sang wakil presiden.
Hal tersebut dapat ditangkap ketika Soeharto tidak menyapa Habibie saat melintas di depannya.
A Yogaswara dalam bukunya ‘Biografi daripada Soeharto’ mengungkap cerita dari sisi Habibie, “Betapa sedih perasaan saya saat itu.”
“Saya hanya melangkah ke ruang upacara mendampingi Presiden Soeharto, seseorang yang saya sangat hormati, cintai, dan kagumi, yang ternyata menganggap saya seperti tidak ada,” ungkapnya dalam buku tersebut.”
Habibie pun menjadi salah satu sosok yang terkejut saat pidato pengumuman nama menteri kabinet reformasi yang berubah menjadi momen pengunduran diri Soeharto.
Kecurigaan adanya kudeta tidak hanya diprasangkakan pada dirinya. Menurut kisah Sumitro Djojohadikusumo yang merupakan ayah dari Prabowo mengungkap bahwa Presiden RI ke-2 juga menaruh kecurigaan terhadap Prabowo.
Keluarga Cendana kala itu menyayangkan dirinya membiarkan mahasiswa menguasai gedung MPR dan DPR.
Terlepas dari adanya kecurigaan berbagai dugaan spekulatif yang mengarah pada kudeta, suatu hal yang sulit bagi semuanya, Soeharto, Habibie, maupun Prabowo dalam mengatasi kerumitan situasi sosial pada saat itu.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi