Terlibat Perebutan Wilayah dengan Belanda, Ini Peran One Man Show Soeharto pada Serangan Umum 1 Maret 1949

inNalar.com – Serangan umum 1 Maret 1949 merupakan suatu peristiwa perebutan wilayah dengan menyasar Yogyakarta sebagai target utama.

Serangan Umum ini adalah lanjutan dari Agresi Militer Belanda II.

Mengapa Yogyakarta sebagai target utama? Hal tersebut karena Ibukota Indonesia berada di Yogyakarta.

Baca Juga: 90 Persen Rampung, Proyek Jalan Tol Jogja – Solo Terancam Mangkrak Gara-gara Ada Makam Keramat Milik…

Dalam peristiwa Serangan Umum ini pun menjadi momen tak terlupakan bagi Soeharto.

Mengingat Soeharto memiliki peran penting dalam Serangan Umum 1 Maret 1949.

Peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 menjadi ajang yang tepat bagi Soeharto untuk menunjukkan keterampilannya.

Baca Juga: Warga Limapuluh Kota Sambut Antusias Batalnya Pembangunan Jalan Tol Payakumbuh – Pangkalan di Kawasan Mereka

Dilansir inNalar dari buku Biografi daripada Soeharto, dalam peristiwa serangan umum tersebut Soeharto dapat memamerkan keterampilannya sebagai seroang pelaksana lapangan yang pandai melakukan manuver militer.

Adapun terkuak kontroversi dimana Soeharto menunjukkan seoalh-olah telah menjadi satu-satunya tokoh yang paling berjasa dalam merancang Serangan Umum.

Hal tersebut tergambar dari film berjudul Janur Kuning yang diproduksi pada masa Orde Baru.

Baca Juga: Jadikan IKN Kalimantan Timur Sebagai Kota Spons, OIKN Libatkan Lembaga Riset Belanda Guna Kelola Air

Dalam otobiografinya yang banyak menimbulkan kontroversi dimana Soeharto berkisah seakan-akan ia merasa bersalah dengan terpukulnya TNI dari Yogyakarta.

Dalam peristiwa Serangan Umum tersebut, Soeharto kemudian membangun pasukan-pasukan di sekeliling kota Yogyakarta.

Setelah berhitung dengan kekuatannya, Soeharto menyusun rencana untuk melakukan serangan umum yang pertama.

Sayangnya serangan pada tanggal 30 Desember tersebut mengalami kegagalan.

Hal tersebut membuat Soeharto memikirkan untuk melancarkan sebuah Serangan Umum yang mengejutkan pihak Belanda.

Pada saat penyerangan yang terjadi tidak disengaja karena kesalapahaman tersebut menjadi berkah bagi Soeharto.

Pihak Belanda terkejut akan penyerangan pasukan Soeharto yang menyerbu Yogyakarta dari berbagai penjuru.

Serangan tersebut terjadi pagi-pagi buta dan pasukan Belanda dibuat kocar-kacir karena penyerbuan tersebut.

Hanya 12 jam Yogyakarta dikuasai oleh TNI dan berita keberhasilan TNI merebut Yogyakarta tersebar ke penjuru dunia melalui radio.

Mengulik kisah Serangan Umum 1 Maret 1949 versi soeharto, tidak terdapat nama-nama tokoh miiter lain seperti Nasution, Bambang Sugeng, bahkan nama Sri Sultan Hamengkubuwono IX pun tidak ada.

Dari kisah serangan umum versi Soeharto ini memberlihatkan bahwa seolah-olah Soeharto sebagai one man show dalam Serangan Umum ini.***

 

 

Rekomendasi