

inNalar.com – Soeharto yang saat itu masih bekerja dalam militer pernah menolak perintah dari Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno.
Penolakan perintah ini dilakukan oleh Soeharto karena Soekarno memerintahkan dirinya untuk menangkap atasannya sendiri, Soedarsono, buntut dari penculikan PM Sutan Syahrir.
Menurut buku Biografi Daripada Soeharto, terdapat dua versi cerita pada penolakan yang dilakukan oleh Soeharto ini.
Versi pertama merupakan versi Roeder yang menuliskan Soeharto dipanggil untuk menghadap Soekarno.
Pertemuan antara keduanya ini adalah yang pertama terjadi. Selain itu, pertemuan ini juga menggambarkan kepribadian dari dua orang penting tersebut.
Soekarno merupakan seorang figur pemimpin yang percaya diri, ekspresif, dan penuh dengan misi politik serta selalu dikagumi oleh rakyat.
Baca Juga: Unik! Pertama di Indonesia, Jalan Tol Semarang – Demak Disokong Batang Bambu dari Bawah, Kok Bisa?
Di sisi lain, Soeharto merupakan seorang prajurit yang setia pada kewajiban dan hormat dengan atasannya,memiliki pikiran yang lurus ke depan serta patuh dengan peraturan.
Hal ini dapat dilihat dalam tindakannya yang menolak perintah Presiden karena tidak ada perintah tertulis atau memberi perintah kepada dirinya melalui Panglima Besar TRI, Jenderal Soedirman.
Alasan kenapa Soeharto meminta hal tersebut karena menurut etika militer, tidak pada tempatnya seorang bawahan menangkap atasannya langsung.
Soekarno yang menerima penolakan tidak terduga tersebut tentu merasa marah, namun, Soeharto tetap tidak bergeming.
Sebagai ganti penolakan ini, dirinya mengatakan kalau dia akan menjaga pemerintahan dari segala upaya penggulingan kekuasaan.
Kemudian, versi kedua adalah menurut pengakuan dari Soeharto dalam autobiografinya.
Menurut versi ini, perintah kepada Soeharto ini tidak disampaikan secara langsung. Melainkan melalui pesan yang disampaikan oleh Sundjojo.
Sundjojo, Ketua Pemuda Pathuk yang saat itu menjadi utusan Istana Negara, menemuinya di Markas Resimen Wiyoro.
Namun, sama seperti versi pertama, Soeharto menolak perintah dari Soekarno untuk menangkap atasannya, Soedarsono.
“Sungguh gila! Mana ada seorang bawahan harus menangkap atasannya sendiri secara langsung,” pikir Soeharto pada saat itu. “Apalagi tak ada bukti tertulis!” lanjutnya.
Akan tetapi, karena dirinya menolak pesan yang disampaikan oleh Sundjojo tersebut, datang seorang lagi dengan surat perintah dari Presiden.
Lagi-lagi, Soeharto menolak dengan alasan yang sama.
Karena mendapat penolakan untuk kedua kalinya, Soekarno menjuluki Soeharto sebagai “Opsir Koppig” atau “ Opsir Keras Kepala”.
Soeharto pun tahu akan julukan ini dari percakapannya dengan Sundjojo.
Meski memiliki runtutan cerita yang berbeda, inti dari dua versi ini tetap sama, yakni Soeharto menolak perintah Soekarno untuk menangkap atasannya tanpa adanya perintah tertulis.
Penolakan ini, selain mengikuti etiket militer, juga merupakan upaya Soeharto untuk bertindak ahti-hati.
Selain itu, tujuan lain dari penolakan ini adalah untuk mengetahui dimana posisi Jenderal Soedirman, Panglima TRI, berada.
Setelah mengetahui berada di posisi mana Jenderal Soedirman dalam kejadian ini, baru Soeharto berani mengambil langkah selanjutnya.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi