Berkat Kecerdasannya, Soeharto Berhasil Gagalkan Rencana Jahat Atasannya: Saya Mau Diapusi…

 

inNalar.com – Selain dikenal sebagai sosok yang tegas, Soeharto juga merupakan pribadi yang berotak cerdas dan diplomatis.

Bukti dari kecerdasannya ini dapat dilihat dalam autobiografinya ketika Soeharto menolak perintah Presiden Soekarno untuk menangkap atasannya.

Adapun alasan dibalik perintah penangkapan ini adalah karena atasan Soeharto dipercaya terlibat dalam kasus penculikan PM Sutan Syahrir.

Baca Juga: Justin Timberlake Tetap Bersinar di Usia 42 Tahun, Intip Perjalanan Karir dan Prestasi Selama Menjadi Penyanyi

Namun, Soeharto yang saat itu menjabat sebagai Komandan Resimen III Divisi III TRI dan merupakan bawahan dari Soedarsono, menolak perintah Presiden tersebut.

Soeharto mengatakan dia tidak bisa menangkap atasannya langsung tanpa adanya surat perintah tertulis atau perintah dari Panglima Besar TRI, Jenderal Soedirman.

Dilansir inNalar.com dari buku Biografi Daripada Soeharto, penolakan perintah ini membuatnya mendapat julukan “Opsir Koppig” dari Presiden Soekarno.

Baca Juga: Kota Tersempit di Indonesia Ternyata Ada di Sumatera Utara, Luasnya Lebih Kecil dari Bandara Soekarno Hatta

Meskipun begitu, hal ini Soeharto lakukan untuk melihat situasi secara lebih jelas dan menentukan tindakan apa yang harus dia lakukan.

Menolak perintah dari Soekarno tidak serta membuatnya percaya jika atasannya tidak terlibat dalam penculikan Sutan Syahrir.

Setelah memberi penolakan pada perintah Presiden, Soeharto pergi menemui Mayor Jenderal Soedarsono dan mengundangnya ke Markas Wiyoro.

Baca Juga: Habiskan Dana Rp113,7 Miliar, Ini Wajah Baru Benteng Pendem Ngawi Setelah Direnovasi, Ada Makam di Dalamnya

Petang harinya, Soedarsono datang ke Markas Wiyoro, namun, hanya sebentar saja. Setelah menujukkan telegram yang berisi pesan untuk menghadap Panglima Besar, Soedarsono pun pergi dengan dikawal satu peleton anggota Resimen III.

Namun, setelah kepergiannya, Panglima Besar Jenderal Soedirman meneleponnya dan mengatakan untuk tidak membiarkan Soedarsono pergi dari Markas Wiyoro.

Setelah mendapat telepon ini, Soeharto merasa dirinya telah ditipu.

Malam harinya, Soedarsono datang kembali ke markas. Dia membawa rombongan tahanan politik yang  ia bebaskan dari Rutan Wirogunan.

Selain itu, dia juga mengatakan akan menemui Presiden Soekarno besok untuk menyampaikan surat dari Panglima Besar Jenderal Soedirman.

Meski sudah tahu kalau dirinya sedang dibohongi, Soeharto tidak berkata apa-apa seolah tidak tahu apa-apa.

“Dikira saya tidak tahu persoalannya. Saya mau diapusi (dibohongi), tidak ada jalan lain selain balas ngapusi (membohongi) dia,” kata Soeharto dalam autobiografinya.

Firasat buruk mulai dirasakan oleh Soeharto ketika atasannya itu menyiapkan konsep surat yang akan dimintakan tanda tangan kepada Presiden Soekarno keesokan harinya.

Adapun isi surat tersebut adalah tentang pembubaran Kabinet Syahrir, penyerahan kekuasaan Hankam dari Soekarno ke Soedirman.

Selain itu, juga termasuk Pendirian “Dewan Kepemimpinan Politik” serta pembentukan kabinet baru.

Tidak hanya itu, Soedarsono bahkan juga memerintahkan penculikan Mohammad Hatta dan Amir Syarifuddin.

Tepat malam itu juga, Soeharto menghubungi Istana Negara dan memberitahu rencana atasannya tersebut.

Dirinya meminta agar pihak Istana Negara bersiap untuk menggagalkan dan menangkap Soedarsono sementara Soeharto akan mengamankan dari gangguan pihak luar.

Pada 3 Juli 1946, Soedarsono dan kelompoknya berhasil ditangkap.

Bahkan, dengan taktik yang brilian ini, tidak sebutir peluru pun ditembakkan untuk melumpukan Soedarsono dan kelompoknya.

Peristiwa penangkapan ini membuktikan kecerdasan Soeharto dimana dia tidak kehilangan muka di hadapan atasannya, Soedarsono, juga tidak melanggar kewajibannya sebagai prajurit untuk melindungi negara dan pemerintahan.

Peristiwa ini juga menunjukkan kemampuan diplomasi Soeharto yang mampu berpikir tenang dalam tekanan sehingga mampu menilai situasi sulit dengan hati-hati. ***

 

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]