Luas Terminalnya 20.000 m2, Bandara di Konawe Selatan Sultra yang Ganti Nama Ini Sempat Terjegal Sengketa…

inNalar.com – Bandara yang ada di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara ini dulu dikenal sebagai Bandara Wolter Manginsidi.

Namun, sejak tahun 2010 yang lalu, nama dari Bandara Wolter Manginsidi di Kendari, Sulawesi Tenggara ini berubah menjadi Bandara Haluoleo Kendari.

Perubahan nama ini didasari dari keinginan untuk menampilakn tokoh sejarah Sulawesi Tenggara dalam sarana dan prasarana vital daerah.

Baca Juga: Alasan Soeharto Dirikan YPTE Hingga Terjerat Kasus Korupsi Sebelum Jadi Presiden, Demi Sejahterakan Rakyat?

Seperti yang diketahui, Heluoleo sendiri merupakan nama dari seorang Sultan Buton yang memiliki jasa besar dalam mengubah bentuk pemerintahan Buton.

Selain itu, Sultan Buton Haluoleo juga memiliki jasa dalam menyebarkan agama islam di Sulawesi Tenggara.

Bandara Haluoleo Kendari beralamat di Jalan Wolter Mongisidi, Ambaipua, Kecamatan Ranomeeto, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.

Baca Juga: 2078 Izin Pertambangan Batubara Sampai Mineral Dicabut di Era Jokowi, Apakah Ada Penyalahgunaan Izin?

Bandar udara ini hanya berjarak sekitar 20 km dari pusat Kota Kendari.

Dilansir inNalar.com dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, bandar udara ini masuk ke kategori domestik dengan kelas bandara adalah kelas I.

Bandar udara ini memiliki runway seluas 112.500 meter persegi dengan apron seluas 52.769 meter persegi.

Baca Juga: ‘Ramalan’ Presiden Soeharto Atas Indonesia di Tahun 2020, Cintai Produk Negeri untuk Kelangsungan Bangsa

Apron pesawat yang terbagi ke dalam dua konstruksi berbeda ini mampu menampung sembilan pesawat narrow body.

Selain itu, bandar udara ini juga memiliki terminal dengan luas 20.000 meter persegi yang berkapasitas 1.500 orang.

Meski sudah berganti nama menjadi Bandara Haluoleo Kendari, nama Wolter Manginsidi masih terus dipakai.

Hanya saja, pemakaian nama Wolter Manginsidi hanya digunakan untuk kepentingan penerbangan militer.

Masih digunakannya nama lama dari bandar udara ini adalah karena Wolter Manginsidi memiliki pengaruh terhadap pendirian bandara ini.

Selain itu, Wolter Manginsidi juga merupakan seorang tokoh pejuang yang dinobatkan sebagai pahlawan nasional.

Akan tetapi, meski memiliki nama yang bagus, bandar udara ini sempat terjegal kasus sengketa tanah pada akhir tahun 2022 lalu.

Kasus ini adalah sengketa lahan dari proyek perluasan Bandara Haluoleo Kendari di Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara.

Warga pemilik lahan melapor ke Ombudsman RI serta DPRD Sulawesi Tenggara perihal penolakan harga ganti rugi karena dinilai terlalu sedikit.

Harga ganti rugi lahan yang diberikan pemerintah sebagai ganti rugi adalah sekitar Rp 40.000,- per meter.

Sedangkan, berdasarkan ZNT atau Zona Nilai Tanah, harganya adalah Rp 225.000,- per meter.***

 

Rekomendasi