

inNalar.com – Pada 17 Desember 1960, Soeharto mendapati kondisi dunia politik Indonesia berada di arah persaingan yang tidak sehat.
Kondisi politik di Indonesia tersebut, Soeharto dapatkan saat ia telah pulang dari pendidikannya di Bandung.
Soeharto mencatat adanya perselisihan yang tajam antara Angkatan Darat, golongan Islam yang anti-komunis, dan golongan nasionalisme yang anti-komunis di satu pihak.
Baca Juga: Resmi! Organisasi Projo Bakal Dukung Prabowo di Pilpres 2024: Bukti Tegak Lurus ke Jokowi?
Melihat inipun Soeharto merasa frustasi dan timbul rasa muak yang menggebu-gebu.
Rasa muak itu timbul terhadap PKI saat Presiden Soekarno menunjukkan gejala akan kedekatannya dengan partai yang satu ini.
Kedekatan itu, ternyata telah ditetapkan oleh sistem Demokrasi Terpimpin.
Menempatkan Angkatan Darat sebagai kekuatan yang paling dominan di pemerintahan.
Supaya bisa membantu jika terjadinya perpecahan pendapat dengan Angkatan Darat, maka dibutuhkan kekuatan besar.
Kekuatan besar itulah yang menjadikan PKI sebagai pilihannya.
Hal ini tanpa disadari oleh Presiden Soekarno dapat menimbulkan rasa ketertarikan yang berlebihan kedepannya.
Akibat ambisi pribadinya yang menggenggam semua kekuatan dalam konsep Nasakom (Nasional, Agama, Komunis), membuat Soekarno mencoba menyeimbangkan kekuatan sipil dalam militer.
Namun, akibat itu semua, langsung menimbulkan pertentangan dalam diri Angkatan Darat.
Terjadilah “Perang Dingin” yang mana ingin memperebutkan Soekarno.
Selain itu, ditambah juga dengan kondisi perekonomian negara yang buruk, karena tinggi inflasi dan infrastruktur ekonomi yang ikut terlantar.
Kondisi itu langsung berpengaruh pada produktivitas dari segala sektor sehingga membawa Indonesia masuk dalam situasi yang kritis.
Saat menghadapi hal ini, membuat Soeharto merasa keputusasaannya yang menjadi “orang buangan” di militer.
Mengutip dari Buku “Biografi Daripada Soeharto” karya A. Yogaswara, menyebutkan Soeharto sempat terlintas dalam benaknya untuk berhenti dari kedinasan.
Kemudian, dalam pemikirannya, Soeharto akan menjadi pertani atau menjadi supir taksi.
Semua pemikiran Soeharto akibat dari rasa frustasinya, langsung dibujuk oleh istrinya, Ibu Tien.
Istri Soeharto mengatakan bahwa ia tidak menikahi seorang supir taksi, tapi menikahi seorang prajurit.
Setelah merasakan keterpurukan, Soeharto kembali bangkit.
Pada saat itu, Soeharto ditunjuk untuk membantu KSAD Nasution sebagai Deputi I (Operasi).
Saat melaksanakan perjalanan tugas tersebut, Soeharto dibantu oleh mantan anak buahnya di Diponegoro, Ali Moertopo.
Keterpurukannya, ia jadikan sebagai titik balik yang akan mengantarkannya menuju puncak.
Hingga akhirnya pintu kesuksesan itu mendatangi Soeharto pada Maret 1961.
Kala itu Soeharto dipercaya Nasution untuk menjadi Komandan Cadangan Umum Angkatan Darat (CADUAD).
Sebelumnya ia berpangkat sebagai brigjen. Alasannya terpilih karena di masa lalunya Soeharto menunjukkan loyalitas kepada pemerintah.
Selain itu, ia juga tidak berambisi, tidak berbahaya, dan patuh. ***