Frustasi, Soeharto Sampai Ingin Ganti Profesi, Celetuk Ibu Tien: Saya Menikahi Seorang Prajurit, Bukan…

inNalar.com – Ibu Tien yang bernama lengkap Siti Hartinah merupakan istri Soeharto yang memiliki peran besar dalam kisah perjuangannya.

Soeharto, dulunya sibuk berperang sampai tidak sempat memikirkan urusan cinta.

Soeharto baru memikirkan jenjang kehidupan yang selanjutnya setelah dinasehati dan didorong oleh bibinya sendiri.

Dilansir inNalar.com dari buku berjudul “Biografi Daripada Soeharto” yang ditulis oleh A. Yogaswara, berikut fakta sejarahnya.

Baca Juga: Belum Punya Pasangan? Lima Kota di Jawa Timur Ini Cocok Jadi Destinasi Cari ‘Gebetan’, No 1 Bukan Surabaya!

Menikah di Usia 27 Tahun

Soeharto, pada akhir tahun 1947 mengunjungi keluarga Prawirowihardjo, yakni keluarga bibi dan pamannya di Yogyakarta.

Ia tidak menyangka, kunjungannya kali itu akan mengantarkan dirinya pada fase kehidupan yang baru.

Bibi Soeharto, Ibu Prawirowihardjo, mendorong dirinya untuk segera menikah karena usianya yang sudah mencapai 27 tahun.

Baca Juga: Resmi! Organisasi Projo Bakal Dukung Prabowo di Pilpres 2024: Bukti Tegak Lurus ke Jokowi?

Keponakannya itu sempat menolak secara halus, mengingat serangan pasukan Belanda masih terjadi.

Namun, setelah dinasehati lagi, Soeharto mulai berpikir dan mengiyakan saja tawaran bibinya.

Siti Hartinah, itulah nama perempuan yang akan ‘ditembung’ bibinya. Ia merupakan keturunan ningrat yang bertugas di Mangkunegaran, Solo.

Baca Juga: Luas Terminalnya 20.000 m2, Bandara di Konawe Selatan Sultra yang Ganti Nama Ini Sempat Terjegal Sengketa…

Soeharto sempat minder dengan garis keturunan Siti Hartinah, namun bibinya menghibur mengatakan dirinya punya perantara.

Menikah di Tengah-tengah Perang

Atas bantuan seorang perantara, akhirnya keluarga Prawirowihardjo bisa bertemu dengan keluarga RM Tumenggung Soemoharjomo.

Meski Soeharto adalah prajurit negara yang berulang kali menghadapi medan pertempuran, ia merasa gugup.

Ia khawatir Siti Hartinah tidak menyukainya. Namun, takdir berkata lain.

Siti Hartinah ternyata telah mengetahui sedikit banyak tentang Soeharto dari temannya, dan dia tak keberatan menjadikannya suami.

Akhirnya, pada 26 Desember 1947, pernikahan kedua mempelai tersebut dilaksanakan di Solo, Jawa Tengah.

Sesuai adat Jawa, slametan diadakan di malam harinya. Situasi perang membuat slametan Soeharto hanya diterangi lilin saja.

Tiga hari setelah pernikahan, Siti Hartinah diboyong sang suami ke kota Yogyakarta.

Siti Hartinah Pendukung Suami

Setelah menjalani kehidupan bersama lebih dari sepuluh tahun, sekitar tahun 1960-an, Soeharto merasa situasi politik di Indonesia tidak sehat.

Kebenciannya terhadap PKI tambah bergejolak saat ia melihat Soekarno menunjukkan kedekatan dirinya dengan partai komunis itu.

Tak ada yang berani mengomentari Soekarno, Soeharto pun sampai merasa frustasi.

Ia menyebut ingin berganti profesi saja, menjadi petani atau menjadi sopir taksi.

Siti Hartinah, mendengar suaminya berkata seperti itu, ia lantas berceletuk bahwa ia menikahi seorang prajurit, bukan sopir taksi.

Kata-kata Ibu Tien ternyata sangat berpengaruh bagi Soeharto. Terbukti, beberapa tahun setelah itu, ia diangkat menjadi presiden, selama 32 tahun.***

 

Rekomendasi