

inNalar.com – Pembangunan jalan tol di Provinsi Sumatera Utara bikin retak rumah warga.
Jalan Tol sepanjang 143,25 km yang dibangun dari Kuala Tanjung – Tebing Tinggi – Parapat sebagai peningkat konektivitas di Sumatera Utara.
Namun, pada awal pembangunannya memperoleh protes dari warga di sala satu Kecamatan di Sumatera Utara.
Baca Juga: Batal Dibangun, Jalur Kereta Api Kalimantan Timur Senilai Rp53,3 Triliun Tidak Ada Investor, Kenapa?
Pada awal pembangunan yang dilakukan pada awal bulan Juli 2020, pembangunan Tol Tebing Tinggi – Kuala Tanjung sedang gencar dilakukan.
Saat pembangunan tersebut ternyata berdampak pada ekses puluhan rumah warga di sekitarnya.
Rumah warga yang terdampak adalah di Dusun Teratai, Desa Sipare-pare, Kecamatan Air Putih, Kabupaten Batu Bara.
Puluhan rumah warga di dusun Teratai retak-retak hingga akses utama jalan tanggul juga mengalami rusak berat.
Keluhan tersebut ternyata terungkap saat warga yang terdampak mendatangi kantor desa di daerah tersebut.
Saat berada di kantor desa itu, warga mengungkapkan pembangunan Tol Tebing Tinggi – Kuala Tanjung di Sumatera Utara membuat warga cemas.
Baca Juga: 75.497 Ribu Siswa Dianggap Tidak Layak Terima KJP atau Kartu Jakarta Pintar, Ini Penyebabnya…
Terkhusus untuk warga Dusun Teratai Desa Sipare-pare, Kecamatan Air Putih, Kabupaten Batu Bara.
Jalan Tol yang dibangun oleh pemerintah melalui Kementerian PUPR bersama dengan Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) ditujukan untuk peningkatan konektivitas.
Akan tetapi, pada pemasangan paku bumi di sekitar proyek tersebut berdampak pada retaknya dinding dan lantai rumah warga.
Tidak hanya itu, puluhan warga juga mencemaskan tanggul sungai yang merupakan akses jalan utama untuk menuju Dusun Teratai.
Kondisinya pada saat itu, tanggul tersebut mengalami kerusakan sebagai akibat dari pengangkutan material pembangunan jalan tol.
Kondisi itu disampaikan oleh salah satu warga dusun Teratai, Desa Sipare-pare, Kecamatan Air Putih, Kabupaten Batu Bara.
Warga meminta kepada pihak pengembangan yaitu PT Waskita Karya untuk bertanggung jawab atas kerusakan puluhan rumah warga.
Tidak hanya itu, warga juga meminta kepada pihak oengembang untuk memperbaiki tanggul sungai yang menjadi akses utama mereka menuju Dusun Teratai.
Dari keluhan tersebut, pihak pngembang, yaitu PT Waskita Karya menyampaikan bahwa pihaknya segera merespon keinginan masyarakat.
Tidak hanya itu, pihaknya akan segera turun ke lapangan dan meninjau ulang rumah yang retak-retak akibat pemasangan paku bumi.
Dari peninjauan tersebut akan dilakukan koordinasi dengan pimpinan pengembang dan mencarikan solusinya.
Saat ini, pembangunan jalan tol yang terbagi menjadi 6 seksi di Sumatera Utara tersebut sudah berjalan hingga beberapa seksi sudah hampir selesai.
Hal itu, diketahui dari website resmi Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).
Pembangunan proyek dengan dana investasi hingga Rp 13,4 triliun tersebut di 3 ruas Kuala Tanjung – Tebing Tinggi & Parapat.
Penampakan Ruas Jalan Tol Kuala Tanjung -Tebing Tinggi – Parapat
Hadirnya jalan tol di Sumatera Utara tersebut, ditujukan untuk meningkatkan konektivitas di provinsi itu.
Jalan Sepanjang 143,25 km itu akan mempermudah akses menuju DPSP.
Wisatawan terkhusus dari Kota Medan akan lebih mudah aksesnya untuk menuju Destinasi Pariwisata Super Prioritas (DPSP) yaitu Danau Toba dan Pelabuhan Kuala Tanjung.
Dana yang investasinya Rp 13,4 triliun, yang terbaik ke dalam 6 seksi dikerjakan oleh 3 pihak.
Seksi 2 dan 3 menjadi tanggung jawab. Dari PT Waskita Karya, sedangkan untuk seksi 1 dan 4 dikerjakan oleh PT Hutama Karya.
Untuk seksi 5 dan 6 merupakan tanggung jawab dari pemerintah dalam penyelesaian pembangunannya.
Target penyelesaian jalan tol di Sumatera Utara itu ditargetkan pada bulan Juli 2023.
Sehingga jalan tol tersebut bisa difungsikan dan berdampak pada peningkatan perekonomian di wilayah Sumatera Utara.***