Terjadinya Malari Hingga Singkirkan Kawan, Benarkah Soeharto Hilangkan Pesaing untuk Tetap Berkuasa?

inNalar.com – Seperti yang banyak masyarakat Indonesia ketahui, jabatan Presiden terlama masih dipegang oleh Presiden Soeharto yang menjabat selama 32 tahun.

Karena menjabat begitu lama, banyak kontroversi yang mengeliling kehidupan Presiden Soeharto.

Sebagai contohnya saja adalah pada Peristiwa Malari.

Baca Juga: Bangkrutnya Pertamina Jadi Skandal Korupsi Zaman Kepemimpinan Soeharto Era Orde Baru yang Terapkan Nepotisme

Peristiwa Malari sendiri merupakan demonstrasi besar-besaran yang dilakukan pada 15 Januari 1974 dengan tujuan untuk menolak investasi asing di Indonesia.

Melansir dari buku Biografi Daripada Soeharto, bersamaan dengan Peristiwa Malari ini juga terjadi kerusuhan di Pasar Senen.

Akibat dari kerusuhan ini, Kantor Astra, di mana pemiliknya dicurigai dekat dengan Ibu Tien, istri Soeharto, dan Ibnu Sutowo dibakar habis.

Baca Juga: Kerajaan Bisnis Keluarga Cendana, Soeharto Sengaja Tutup Mata dan Telinga Atas Kasus Istri dan Anak-anaknya?

Banyak kendaraan buatan Jepang yang dirusak. Akibatnya, sekitar 470 orang ditangkap, termasuk pemimpin dari demonstrasi mahasiswa ini, Hariman Siregar.

Meski tujuannya adalah karena ketidaksukaan dan menolak investasi asing, namun, para pengamat beranggapan bahwa kerusuhan terjadi akibat efek dari pertentangan dua kubu.

Kubu pertama adalah Opsus (Operasi Khusus) dan Aspri (Asisten Pribadi) yang dipimpin oleh Ali Moertopo dan Sudjono.

Baca Juga: Menguak Awal Kisah Percintaan Soeharto dengan Siti Hartinah, Diperantarai Hingga Sempat Insecure?

Sedangkan, kubu kedua adalah Kopkamtib (Komando Operasi Pemulihan Keamanan dan Ketertiban) dan Bakin (Badan Koordinasi Intelijen) yang dipimpin oleh Soemitro dan Sutopo Juwono.

Ali Moertopo menuding Soemitro berada di balik Peristiwa Malari.

Dia menuding bahwa Soemitro memiliki keinginan untuk menjadi presiden dengan bantuan AS. Terlebih, ditemukan Dokumen Ramadi yang menyebutkan terdapat seorang jenderal bernama S yang berencana untuk merebut kekuasaan.

Soemitro yang merasa dirinya difitnah menampik tudingan Ali Moertopo. Dia merasa bahwa Ali lah yang memiliki ambisi untuk menjadi presiden.

Terlebih lagi, Soemitro mengetahui jika Ramadi adalah rekan dekat Ali Moertopo. Hal ini dia ketahui dari Bakin yang dipimpin oleh Sutopo Juwono.

Konflik dari dua pihak ini membuat Soeharto menyadari bahwa tidak bisa membiarkan kedua kubu ini berada dekat satu sama lain.

Soeharto membubarkan Aspri dan memindahtugaskan Ali Moertopo menjadi Menteri Penerangan sebelum akhirnya menjadi DPA (Dewan Pertimbangan Agung).

Sedangkan kawannya yang lain, yakni Soemitro dan Sutopo Juwono beserta orang-orang terdekatnya diberi jabatan ringan tanpa kekuasaan.

Apa yang dilakukan oleh Soeharto ini membuat salah satu kawannya curiga akan adanya upaya untuk memecah belah tokoh-tokoh tertentu agar tidak ada yang bisa menyaingi Soeharto.

Hal ini bahkan pernah diutarakan oleh Soemitro secara langsung kepada Soeharto.

“Heran ya, Pak,” katanya. “Di Indonesia ini, setiap ada tokoh yang nongol pasti kemudian disingkirkan,” lanjutnya seperti dikutip dari buku Biografi Daripada Soeharto.***

 

Rekomendasi