Menilik Deretan ‘Kebetulan’ Soeharto dengan Letkol Untung di Balik Gerakan 30 September 1965, Apa Saja?

inNalar.com – Kemunculan Soeharto sebagai pahlawan saat pertumpahan darah Gerakan 30 September 1965 memang tidak ada yang mengetahui apakah hal tersebut bagian dari sebuah strategi ataukah panggilan jiwa patriotisme.

Satu hal yang pasti banyak yang menilai bahwa Soeharto memiliki kemampuan dalam mengambil keputusan secara kilat di situasi yang sangat genting kala itu.

Meski begitu, peristiwa Gerakan 30 September 1965 justru meninggalkan jejak kejanggalan dan pertanyaan bagi banyak pihak, terutama saat Soeharto mengakhiri masa jabatannya sebagai presiden.

Baca Juga: Punya Gelar Bergengsi dari NU, Plt Bupati Langkat Sumatera Utara Syah Afandin Miliki Harta Kekayaan Mencapai…

Muncul sebuah pertanyaan yang bertebaran di tengah masyarakat Indonesia, apakah sang jenderal terlibat dalam gerakan tersebut?

Willem Frederik Wertheim, sosiolog Belanda kelahiran Rusia ini mempunyai metode yang sangat sederhana dalam menerangkan kecurigaan tersebut.

Begitu pula David Johnson, seorang Direktur Pusat Informasi Kementerian Pertahanan dan Keamanan AS yang kala itu meneliti peritiwa Gerakan 30 September 1965.

Baca Juga: Telan Rp6,9 T, Bandara Terbesar di Batam Kepulauan Riau Ini Bakal Punya Tampilan Baru, Ada Gedung VVIP dan….

Menurutnya, cukup bertanya ‘Siapa yang akan mendapat keuntungan dari kejahatan yang terjadi?’ Tentu jawabannya adalah Soeharto.

Jawaban tersebut terurai berdasarkan argumen bahwa kenyataannya peristiwa tersebut telah membuat dirinya menjadi sosok tertinggi dalam kekuasaan Indonesia.

Namun yang paling disorot adalah sederetan kebetulan hubungannya dengan para pelaku Gerakan 30 September 1965. Berikut sederetan ‘kebetulan’ yang terjadi pada Soeharto di balik peristiwa tersebut.

Baca Juga: Pertama di Indonesia, Jawa Tengah Punya Tol Tanggul Laut di Semarang – Demak, Dibangun di Atas Daratan Lenyap?

Letkol Untung, dahulu sekitar tahun 1950-an ia adalah anak buah Soeharto saat misi Divisi Dipenogoro dan operasi pembebasan Irian Barat.

Sang jenderal sangat niat untuk menghadiri pernikahan Untung di Kebumen. Bahkan beredar kabar pula bahwa Ibu Tien lah yang menjadi makcomblang antara letkol Untung dan istrinya.

Kedekatan tersebut tentu menjadi pertanyaan banyak pihak bahwa bagaimana keduanya bisa berada di kubu yang berbeda saat peristiwa Gerakan 30 September.

Tidak hanya itu, Soeharto sempat marah saat mengetahui bahwa letkol Untung pindah dari jajaran Kostrad dan menuju Komandan Batalian I Resimen Cakrabirawa.

Cukup aneh ketika mantan anak buah yang kemudian diduga menjadi pelaku Gerakan 30 September tersebut tampil sebagai sosok yang kejam dalam film semi-dokumenter G30 S/PKI.

Sementara di mata Soebandrio yang banyak berseberangan dengan Soeharto ini, menurutnya letkol Untung adalah sosok yang naif dan religius,

Hal tersebut ditangkap ketika momen sebelum dirinya dieksekusi di Cimahi 1969. Dikutip dari buku ‘Biografi daripada Soeharto’ karya A Yogaswara, Letnan Kolonel yang disebut sebagai tokoh pelaku utama Gerakan 30 September ini berpesan kepada Soebandrio, “Percayalah, Pak Ban. Vonis buat saya itu hanya sandiwara.”

Perkataannya seolah mengisyaratkan bahwa Letkol Untung yakin bahwa Soeharto masih percaya dan tidak menghianati dirinya.***

Rekomendasi