Dibangun 1200 Masehi, Benteng Bersejarah di Wakatobi, Sulawesi Tenggara Ini Terbuat dari Batu Karang?

inNalar.com – Berbicara mengenai bangunan bersejarah, di Sulawesi Tenggara terdapat sebuah benteng yang miliki nilai sejarah yang tinggi.

Benteng bersejarah tersebut tepatnya barada di Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Memiliki nilai sejarah yang tinggi, benteng bersejarah di Wakatobi ini dikenal dengan nama Benteng Liya Togo.

Baca Juga: Begini Tanggapan Jokowi Terhadap Putusan yang Diterbitkan Mahkamah Konstitusi Terkait Pemilu, Jangan Saya….

Secara administratif, Benteng Liya Togo berlokasi di Desa Liya Togo, Kecamatan Wangi Selatan, Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Sejarah mencatat, benteng ini dibangun pada masa kebesaran kesultanan Buton serta beberapa Pulau Tukang Besi.

Diperkirakan, Benteng Liya Togo ini dibangun pada tahun 1200 masehi.

Baca Juga: Kasus Pencurian Barang Elektronik di Dalam Kereta Api Tawang Jaya Premium, KAI Akhirnya Buka Suara

Benteng ini dulunya difungsikn sebafai benteng pertahanan untuk menghalau serangan musuh dari arah Timur yang dipimpin oleh seorang Miantuli.

Raja Buton-Buton menjadikan Benteng Liya Togo sebagai benteng bertahanan sekaligus pusat pemerintahan kerajaan bercorak agama islam.

Selain itu, di luar benteng terdapat pemukiman para penduduk Kerajaan Buton.

Baca Juga: Ramai Ponpes di Tahun 1980, Kini Daerah di Ponorogo Ini Justru Dijuluki Kampung Mati, Mengapa?

Benteng Liya Togo memiliki 13 pintu yang mana 4 buah terletak pada dinding benteng.

Sementara 9 buah pintu lainnya berada di benteng luar atau pemukiman.

Dilansir inNalar.com dari kebudayaan.kemdikbud.go.id, penempatan pintu benteng ini bertujuan untuk mempermudah kontrol oleh pihak istana dengan masyarakat luar.

Di dalam benteng terdapat sebuah masjid tertua yang memiliki gaya arsitektur abad ke-20. Meskipun begitu, masjid ini dibangun pada tahun 1546.

Uniknya, benteng ini tidak terbuat dari batu alam biasa melainkan terbuat dari batu karang.

Batu karang tersebut disusun secara bertumpuk tanpa pola dan disesuaikan dengan kondisi morfologi batu.

Hal tersebut membuat tumpukan batu karang membentuk gundukan batu persegi empat dengan tinggi dan ketebalan disesuaikan dengan kebutuhan pengamanan.***

 

 

Rekomendasi