

inNalar.com – Soeharto, dengan segala sejarah kontroversialnya mampu menarik banyak konsumen, bahkan hingga saat ini.
Berbagai tuduhan ditujukan pada Soeharto sejak kejanggalan-kejanggalan peristiwa G30S PKI mencuat ke publik.
Ada yang bilang, segala kericuhan politik beserta polemik perpecahannya, sebenarnya adalah taktik Soeharto agar ia ‘naik tahta’.
Terlepas dari benar atau tidaknya kabar tersebut, ada satu momen ia pernah menolak tawaran ‘emas’ dari sosok Soekarno.
inNalar.com melansir dari buku “Biografi daripada Soeharto” karya A. Yogaswara, berikut kronologinya.
Pada tahun 1960-an, kondisi politik di Indonesia sudah mulai tidak sehat. Soekarno merasa gerah dengan tekanan ini.
Ia ingin mempertahankan keyakinan politiknya, namun juga mempertimbangkan bahwa kepemimpinan yang pecah akan menyebabkan perang saudara.
Pada tanggal 3 Februari tahun 1967, beberapa perwira dari keluarga besar Brawijaya menemui Soekarno untuk menyatakan dukungannya.
Dua hari setelahnya, mantan perwira Brawijaya, Sarbini, menemui Soekarno atas izin Soeharto. Ia menyarankan mengikuti kebijakan Resi Abiyasa.
Baca Juga: Lenyapkan Dana Hingga Rp3,36 Triliun, Proyek Bendungan di Bogor Ini Gusur 5.697 KK di 2 Kecamatan
Resi Abiyasa, yakni raja Mahabharata lebih memilih mundur dari pemerintahan untuk bertapa, namun juga siap sedia kapanpun negara membutuhkannya.
Usulan tersebut tampak belum berhasil, tapi ternyata, secara diam-diam, tiga hari setelahnya, yakni tanggal 8 Februari, Soekarno mengirim surat untuk Soeharto.
Isi surat tersebut adalah penawaran emas yang dimaksudkan untuk membagi tugas pemerintahan Indonesia dengan tegas.
Soeharto nantinya menjadi pelaksana pemerintahan sehari-hari, dan Soekarno sebagai pemegang tugas utama kenegaraan.
Meski penawaran emas ini dipandang sebagai kesempatan besar untuk maju menjadi presiden, dengan tegas ia menolaknya.
Soeharto merasa dirinya tidak memiliki cukup kemampuan untuk menduduki kursi yang paling tinggi di Indonesia.
Rekan-rekannya selalu mendorong dan meyakinkannya, bahwa tidak ada yang pantas menduduki kursi tersebut selain dirinya.
Akhirnya, benar juga. Berkat usaha rekan-rekannya, Soeharto menerima tawaran emas tersebut.
Setelah melalui rapat khusus bersama para panglima, Soekarno memutuskan untuk melimpahkan kekuasaan sepenuhnya kepada Soeharto.
Pada bulan Maret tahun 1967, Sidang MPRS diselenggarakan untuk menetapkan dirinya sebagai presiden yang kedua.
Perlahan-lahan, foto Soekarno yang telah terpampang tergantikan dengan potret Soeharto, presiden baru Indonesia.
Ia memutuskan memindahkan rumahnya dari Jl. H. Agus Salim ke Jl. Cendana yang nantinya akan menjadi pusat kerajaannya.
Pada tanggal 29 Juni, Soekarno dinyatakan tak lagi menjadi presiden dan tidak boleh mengatasnamakan dirinya sebagai Presiden RI.
Deretan tekanan kejadian ini diyakini telah mempengaruhi kesehatannya, sampai ia wafat pada tanggal 21 Juni 1970.***