Bukan 1998, Emil Salim Ungkap Soeharto Rupanya Sudah Inginkan Lengser Sejak Tahun Ini, Alasannya karena…


inNalar.com – Fakta yang terlihat dalam catatan sejarah mengatakan bahwa Soeharto lengser dari jabatannya sebagai presiden pada 21 Mei 1998.

Rupanya Emil Salim, mantan menteri lingkungan hidup di era Soeharto, sempat mengungkapkan keinginan Sang Presiden RI ke-2 untuk lengser pada tahun 1993.

Keinginan tersebut ditangkap oleh Emil Salim saat dirinya sedang berbincang banyak dengan Soeharto tentang berbagai topik ringan, kebanyakan soal budaya.

Baca Juga: Jadi Cukong Soeharto, Begini Manisnya Gurita Bisnis Taipan Terkaya se-Asia Tenggara di Bawah Kuasa Jenderal

Namun di sela pembicaraan keduanya, ternyata terselip pembicaraan mengenai posisi keduanya yang sama-sama menggeluti bidang pemerintahan.

Meski pada saat itu posisi Emil Salim telah turun dari kursi menteri setelah 25 tahun, ia nampak mengungkapkan terlebih dahulu kepada Soeharto bahwa dirinya mengaku senang telah turun tahta dari kursi menterinya.

Secara mengejutkan, respon sang Presiden RI ke-2 yang kala itu masih menjabat ternyata juga setuju dengan apa yang diungkapkan oleh sang eks menterinya.

Baca Juga: Deretan Bisnis Fantastis Keluarga Cendana, Anak Soeharto Pegang Berbagai Saham, Terdapat Nasehat Yaitu….

Soeharto pun juga mengungkapkan bahwa dirinya merasa bosan dengan jabatannya. Bahkan dirinya sempat didorong oleh istrinya, Ibu Tien agar mengakhiri kekuasaannya di Indonesia.

Niat tersebut sempat hampir direalisasikan oleh sang Presiden RI ke-2, tetapi kawan politiknya tetap mempertahankan dirinya.

Survei menunjukkan bahwa Soeharto masih diinginkan untuk menjadi pemimpin nomor satu di Indonesia.

Baca Juga: Alasan Soeharto Bertahan 32 Tahun Jadi Presiden: Cerdik Kelola Organisasi Partai Hingga Praktik ‘Koncoisme’?

Namun pada kenyataannya dirinya harus menunggu saat krisis ekonomi Indonesia yang kala itu mencekik, setidaknya sejak tahun 1997.

Pada saat upaya terakhirnya mengembalikan kepercayaan masyarakat melalui pembentukan kabinet terbaru ditolak oleh 14 menterinya.

Hingga akhirnya pidato pengunduran diri pun disampaikan oleh Presiden Soeharto pada 21 Mei 1998 di Istana Merdeka, Jakarta.

Sisi ini tidak banyak ditangkap oleh publik, sosok keras kepala dan teguh pada pendirian seolah hampir terelakkan bahwa dirinya pun juga memiliki sikap bosan dan jenuh akan kekuasaan.

Bagaimanapun takdir akhirnya berkata lain, rangkaian kerusuhan yang terjadi di berbagai daerah, musibah nasional yang melanda dan meremukkan ekonomi dalam negeri telah menggerogoti kepercayaan masyarakat.

Kisah tidak terduga ini seolah menyajikan sisi lain dari seorang yang sangat dikenal teguh dan ambisius. Hal tersebut menunjukkan bahwa dirinya pun memiliki titik rendah dalam menjalankan pemerintahan selama 32 tahun.***

 

Rekomendasi