Perjuangan Soeharto Bersama Pasukan Batalion X: Penyerbuan Ambarawa hingga Misi Selamatkan Yogyakarta

inNalar.com – Soeharto bukan hanya terlibat dalam aksi penyerbuan Kotabaru pada tanggal 7 Oktober 1945.

Sebelumnya, Soeharto berhasil memimpin pasukan TKR di peristiwa penyerbuan Kotabaru tanggal 7 Oktober.

Sebagaimana dalam buku biografi tentang Soeharto karya A.Yogaswara, dijelaskan bahwa ada penyerbuan lain yang melibatkannya.

Baca Juga: Penuh Kontroversi! Keputusan MK Dinilai Muluskan Gibran Jadi Cawapres, Isu Pindah ke Golkar Jadi Kenyataan?

Pada saat penyerbuan Kotabaru, pasukan TKR berhasil merebut persenjataan milik Jepang dari dalam asrama.

Hingga penulis buku Roeder mencatat tindakan Soeharto sangatlah beresiko, dan dapat mengakhiri karirnya.

Namun keberhasilan pasukan saat itu, justru membuat Soeharto mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi.

Baca Juga: Pencalonan Gibran dan Gugatan Mahasiswa UNSA Soal Batas Usia Presiden Sudah Terstruktur?

Oleh karena prestasinya itu, Soeharto kemudian diangkat menjadi pemimpin pasukan Batalion X dengan pangkat mayor.

Bergabung bersama dengan tiga batalion lainnya, dalam satu Divisi yang dipimpin oleh Jenderal Mayor Soedarsono.

Kala itu, konsolidasi militer segera dilakukan, karena sekutu di bawah pimpinan Letnan Jenderal Sir Philip Christison asal Inggris telah sampai di Indonesia.

Baca Juga: Inisial M Digadang Jadi Cawapres Ganjar Pranowo, Apakah Mahfud MD? Warganet: Trauma, Takut Diprank

Bersamaan dengan pasukan Belanda Netherlands Indies Civil Administration (NICA), yang segera menimbulkan bentrokan.

Sederet ketegangan dirasakan oleh Soeharto, para komandan, dan pasukan TKR, yang mati-matian membela negara pada saat itu.

Pertempuran di Semarang pecah pada tanggal 31 Oktober, dilanjutkan dengan Magelang dan Ambarawa. Serta yang paling dahsyat terjadi di Surabaya pada tanggal 10 November.

Arek-arek Suroboyo yang waktu itu masih minim pengalaman serta senjata yang seadanya, membuat para pejuang berjuang sampai titik darah penghabisan.

Di bawah naungan Bung Tomo, para sekutu merasa ada di neraka hingga menewaskan Jenderal Mallaby pada penyerangan ini.

Adapun penyerbuan di Ambarawa dan Magelang, membuat para militer mengadakan rapat. Mengingat keselamatan Yogyakarta harus dilindungi karena menjadi salah satu kota penting di awal berdirinya RI.  

Hingga memutuskan Soeharto bersama Batalion X ditugaskan bergabung dengan pasukan lainnya guna menghambat laju sekutu di Magelang.

Ternyata upaya ini membuahkan hasil, dan pasukan sekutu pun mundur ke Ambarawa.

TKR yang bersemangat mengejar hingga Ambarawa, bersama dengan Soeharto dan pasukan Batalion X.

Tepatnya, Soeharto diperintahkan untuk menduduki Banyubiru dengan pasukannya Batalion X, tugas ini pun dijalankan dengan baik.

Tak terima kalah, sekutu pun menembakkan meriam ke daerah Banyubiru, namun Soeharto masih bertahan disana.

Hal ini membuat Letkol Gatot Soebroto, ayah dari Bob Hasan, yang menjadi kawan dekatnya di kemudian hari pada masa Orde Baru, merasa salut.

Pertempuran yang sengit yang melibatkan Soeharto dan Batalion X serta pejuang lain itu pun dapat memukul  mundur sekutu ke Semarang, hingga selamatlah Yogyakarta.

Inilah kisah singkat perjuangan Soeharto bersama para pejuang, dan pasukan Batalion X dalam penyerbuan Ambarawa dan misi selamatkan Kota Yogyakarta. ***

 

Rekomendasi