Siasat Licik Soeharto Lengserkan Soekarno Melalui Supersemar, Sebuah Dalih Keamanan Negara

inNalar.com – Supersemar atau Surat Perintah Sebelas Maret yang bertanggal 11 Maret 1969, merupakan awal dari peralihan kepemimpinan nasional dari pemerintahan orde lama Soekarno ke pemerintahan orde baru Soeharto.

Supersemar juga dapat dikatakan sebagai surat Sakti yang menjadi cikal bakal kelahiran pemerintahan Soeharto, sekaligus disalahgunakan untuk menyingkirkan Presiden Soekarno.

Presiden Soekarno pun menyatakan dengan secara terang-terangan siasat dari Soeharto yang ternyata menyalahgunakan surat kuasa yang dikeluarkannya tersebut.

Baca Juga: Panjangnya 120 Meter, Jembatan Kaca di Probolinggo Senilai Rp15 Miliar Ini Mampu Menanggung Beban 100 Orang

Hal ini disampaikan secara langsung melalui sebuah wawancara dengan media asing ABC News pada Maret 1969 lalu.

Presiden Soekarno yang akrab disapa Bung Karno memaparkan apa sebenarnya isi supersemar yang diberikannya kepada Soeharto.

Bung Karno mengatakan jika penerusnya itu telah bertindak diluar batas, dengan menyalahgunakan Supersemar untuk melakukan aksi beruntun sepanjang Maret 1966.

Baca Juga: Inisial M Digadang Bakal Jadi Cawapres Ganjar Pranowo, Bukan Mahfud MD Tapi Musni Umar? Netizen: Ojo Guyon

Riwayat Supersemar ini juga merupakan sebuah pintu yang sangat besar bagi berjalannya kekuasaan Soeharto menduduki kursi kepresidenan

Penerbitan Supersemar sendiri tidak lepas dari peristiwa Gerakan 30 September 1965 yang melibatkan kadar Partai Komunis Indonesia atau PKI (G30S PKI).

Setelah Supersemar diterbitkan penangkapan dan pembantaian terhadap kader serta simpatisan PKI marak terjadi di berbagai daerah, namun Soeharto selamat.

Baca Juga: Karang Taruna DKI Jakarta Sanjung Kinerja Erick Thohir: Kami Anggap Pemimpin Masa Depan!

Hal ini dikarenakan PKI memang dekat dengan Bung Karno dalam menghadapi persaingan dengan tentara Angkatan Darat pada tahun 1965

Dilansir inNalar.com dari Youtube Studio Langit, Persaingan PKI dengan Tentara Angkatan Darat berkaitan dengan tonggak kepemimpinan Soeharto lantaran Bung Karno dikabarkan sakit.

Pada tanggal 30 September atau 1 Oktober 1965 dalam waktu dini hari, sejumlah perwira tinggi tentara Angkatan Darat dibunuh dan diculik di Jakarta, kecuali Soeharto.

Kejadian ini dipimpin oleh anggota resimen Tjakrabirawa Pasukan Pengawal Presiden yang setia pada Bung Karno yakni Letkol Untung.

Pasukan yang dipimpin Letkol Untung juga sempat menguasai Radio Republik Indonesia dan menyiarkan berita bahwa dewan revolusi sudah terbentuk untuk memberangus dewan Jenderal.

Pada hari yang sama yakni 1 oktober 1965, pasukan Tentara telah menguasai Jakarta kembali, PKI pun dituding sebagai dalang Gerakan 30 September.

Keadaan Jakarta sangat mencekam setelah terjadinya Gerakan 30 Septembe, di samping itu krisis ekonomi juga sedang mengguncang Indonesia mengakibatkan kekacauan terjadi di mana-mana.

Memasuki tahun 1966 mahasiswa menyampaikan Tri Tuntutan Rakyat atau Tritura sejak 21 Februari, tuntutan itu berisi 3 hal yakni, pembubaran PKI yang dinilai penyebab dari tragedi 3 G30S, perombakan Kabinet Dwikora serta Penurunan harga.

Sidang kabinet 100 menteri pada tanggal 11 Maret 1966 menjadi rapat terakhir yang dipimpin oleh Bung Karno.

Dalam persidangan tersebut Bung karno baru menyampaikan sebentar, setelah itu dirinya langsung menyerahkan kepemimpinan sidang kepada Wakil Perdana menteri atau Waperdam II Leimena.

Hal ini disebabkan Ayu dan Bung Karno mendapatkan surat mata dari komandan Tjakrabirawa Brigjen Sabur, dengan meminta Bung Karno agar segera mengamankan diri.

Bung Karno pun bertolak mengamankan diri ke Istana Bogor menggunakan helikopter, kala itu Suasana di Jakarta semakin memanas ribuan mahasiswa bergerak ke Istana Merdeka dengan tujuan membubarkan sidang 100 menteri.

Sehari sebelumnya pada tanggal 10 Maret, Soeharto melakukan pertemuan dengan Panglima Kodam atau Pangdam Jaya Brigjen Amir Machmud, Brigjen M Yusuf, dan Mayjen Basuki Rachmat

Soeharto menyatakan bahwa dirinya siap untuk menerima mandat penuh dari Bung Karno dalam mengatasi kemelut yang sedang menyambangi negara, termasuk pada masalah keamanan dan politik.

Lalu ketiga Jenderal itu menyetujui Soeharto, beberapa saat setelah sidang 100 kabinet ditutup Pangdam Jaya Amir Mahmud menteri Veteran Brigjen, Basuki Rahmat dan Menteri Perindustrian, M Yusuf menemui Soeharto di rumahnya.

Soeharto menitipkan pesan untuk Bung Karno yang sedang mengungsi di Istana Bogor, pesan tersebut berisikan permintaan Letnan Jenderal Soeharto kepada Soekarno yakni surat perintah dalam mengatasi konflik.

Kemudian ketiga Jenderal tersebut menyambangi Bung Karno di Istana Kepresidenan Bogor dan menyampaikan pesan Soeharto tersebut.

Saat itulah Bung Karno dipaksa untuk menandatanganinya hingga menyebabkan kenaikan pangkat pada Soeharto dan menyebabkan Bung Karno diasingkan

Dalam hal ini salah seorang pengawal Bung Karno, Winarjito menyatakan, sebenarnya bukan 3 Jendral melainkan ada 4 jenderal yang menemui Bung Karno

Satu Jenderal yang dimaksud adalah M Panggabean. Winarjito mengaku bahwa dirinya melihat dengan jelas Panggabean menodongkan pistol ke arah Bung Karno agar segera menandatangani Supersemar.

Namun kesaksian dari Winarjito ini banyak dibantah, karena di kala itu dirinya masih berpangkat rendah.

Akibat tidak punya pilihan akhirnya Bung Karno pun menandatangani surat dan menyerahkan kepada M Yusuf.

Namun, ternyata di hari-hari berikutnya surat itu dipakai Soeharto untuk menerbitkan keamanan atas nama Bung Karno.

Diketahui sehari setelah penandatanganan surat Supersemar, Soeharto langsung membubarkan PKI, dengan dalih menggunakan Surat Keputusan Presiden Nomor 113 Tahun 1966.

Saat membacakan surat, Soeharto juga menyebut bahwa surat tersebut telah ditandatangani Bung Karno.

Lalu 6 hari berikutnya sebanyak 15 menteri Bung Karno ditangkap dengan tuduhan terlibat dalam peristiwa G30S.

Tidak hanya itu setelah pembubaran PKI, pembantaian terhadap anggota PKI dan keluarganya, simpatisan, hingga orang yang tidak berkaitan dengan PKI, terjadi di mana-mana.

Tidaka ada yang mengetahui secara pasti jumlah persis korban yang berjatuhan dalam peristiwa ini.

Ada yang menyebut jumlah korban mencapai 800 jiwa, ada pula yang menyebut korban berjatuhan sebanyak 1 juta jiwa hingga jumlah tertinggi merujuk pada pernyataan Sarwo Edi Wibowo yang menyebut terdapat sebanyak 3 juta jiwa.

Sejarawan Adi Adrian menyatakan terdapat temuan di mana Jazz Melvin salah seorang peneliti dari University of Sydney mendapat dokumen milik Badan Intelijen Negara di Banda Aceh

Isinya menyatakan bahwa Tentara terlibat dalam pembantaian massal tersebut, Tentara Angkatan Darat terlibat dalam penghancuran PKI hingga pada basisnya di atas rumput.***

 

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]