Jauh Berbeda dengan Soekarno, Ternyata Ini Alasan Soeharto Tidak Mau Kenakan Atribut Lengkap

inNalar.com – Pada masa kepemimpinannya, Soeharto terlihat jarang mengenakan atribut pada bajunya berbeda dengan presiden sebelumnya yaitu Soekarno.

Soekarno pada saat menjabat terlihat sering mengenakan atribut lengkap seperti pangkat bintang tanda jabatan, tidak seperti Soeharto.

Ternyata, Soeharto memiliki alasan khusus mengapa enggan mengenakan atribut lengkap.

Baca Juga: Nilai Investasinya Capai 2,6 Miliar USD, PLTA Mentarang di Kalimantan Utara Ditarget Selesai Tahun 2029?

Atribut yang biasa dikenakan oleh Soekarno, presiden sebelum Soeharto adalah pangkat bintang tanda jasa hingga bendera kepresidenan.

Soeharto memilih untuk tidak menampilkan diri dengan atribut serta tanda kepresidenan.

Ternyata hal ini tidak muncul begitu saja, namun ia memiliki alasan mendalam.

Baca Juga: Ledakan yang Disasarkan ke Rumah Sakit Gaza Memicu Kemarahan Serta Kecaman dari Seluruh Dunia

Dari buku Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya terungkap alasan Mantan Presiden Kedua Republik Indonesia tersebut.

Diceritakan selama masa pemerintahan Soeharto ia secara konsisten tidak mengenakan atribut.

Atribut yang dimaksud adalah seperti bintang, bendera kepresidenan dan yang lainnya.

Baca Juga: Aksi Saling Tuduh Antara Israel-Palestina Terus Berlanjut, IDF: Hamas Sengaja Menyesatkan Media Internasional

Atribut ini umumnya menggambarkan tanda jasa juga berkaitan dengan jabatannya sebagai presiden.

Ternyata alasan Soeharto tidak mengenakan atribut adalah karena pandangannya tentang tugas dan fungsi presiden.

Tugas dan fungsi presiden salah satunya adalah sebagai Panglima Tertinggi Angkatan Perang.

Soeharto percaya bahwa peran Panglima Tertinggi tidak ada hubungannya dan tidak bergantung pada atribut tertentu.

Peran tersebut tidak bergantung pada tampilan fisik melainkan kemampuan seseorang untuk mengemban tanggung jawab komando.

Ia juga memandang konstitusi Indonesia telah menegaskan bahwa presiden memegang kekuasan tertinggi atas Angkatan Perang.

Hal ini juga menunjukkan bahwa penggunaan atribut maupun tanda pangkat jenderal tidak mutlak diperlukan menurut Soeharto.

Untuk itulah, Soeharto merasa tidak perlu mengenakan atribut lengkap saat memimpin.

Soeharto dan Soekarno mungkin memiliki pandangan berbeda mengenai peran atribut dalam busana.***

 

Rekomendasi
REKOMENDASI UNTUK ANDA [Tutup]