

inNalar.com – Dibalik nama baik istri Soeharto, Ibu Tien atau Siti Hartinah sebagai keturunan ningrat, ada kisah kelam yang tak banyak diketahui masyarakat.
Soeharto selalu mengingatkan untuk memberantas kasus korupsi, namun ia bermuka dua. Keluarganya korupsi, ia diam saja.
Tak terkecuali kasus Ibu Tien, sang istri. Ia manfaatkan sumbangan para pejabat untuk mendirikan Taman Mini Indonesia Indah atau TMII Jakarta.
Baca Juga: Berusia 400 Tahun, Pasar Tradisional Terapung di Banjarmasin Ini Disebut Sempat ‘Mati Suri’, Kini…
Melansir dari buku “Biografi daripada Soeharto” karya A. Yogaswara, publik telah mencium aroma tak sedap dari keluarga Cendana.
Salah seorang pejabat, Benny Moerdani, disingkirkan setelah ia menegur sang presiden untuk mengendalikan putra putrinya.
Sebenarnya sikap loyal Soeharto sudah sejak lama. Entah karena ‘tidak enakan’, atau karena alasan yang lain, ia selalu memberi kelonggaran kepada kerabat.
Kebangkrutan Pertamina yang melibatkan korupsi kawan dekatnya, Ibnu Sutowo, pun baru diatasi dengan keterlambatan setelah ada unjuk rasa.
Penyingkiran Benny Moerdani, adalah sikap Soeharto untuk melindungi tindak korupsi yang dilakukan keluarganya.
Kasus keluarga Cendana menjadi yang paling mencolok dibanding yang lainnya seperti Pertamina dan Bulog.
Sejak tahun 1970, Ibu Tien, dengan segala pesona ningratnya ternyata sudah digosipkan memiliki keterkaitan dengan berbagai skandal bisnis.
Tahun berikutnya, tepatnya pada September 1971, kepala polisi Hugeng Imam Santoso membongkar perlindungan tentara terhadap sindikat impor mobil mewah.
Nama istri sang presiden, Ibu Tien sempat disebut memiliki keterlibatan dalam sindikat tersebut.
Herannya, dalam waktu sebentar saja selang beberapa hari setelah pembongkaran itu, kepala polisi Hugeng Imam Santoso diberhentikan dari jabatan.
Tak berhenti disitu, keluarga Cendana ngelunjak menginginkan lebih. Bersamaan itu, Soeharto juga memberikan proteksi yang lebih.
Ibu Tien, memanfaatkan Yayasan Harapan Kita, memungut sumbangan dari para pejabat daerah untuk mengembangkan proyek TMII Jakarta.
Proyek tersebut habiskan dana miliaran rupiah, membuat para mahasiswa menilainya sembrono dan boros mengingat label miskin yang sedang diderita Indonesia.
Bermaksud untuk unjuk rasa dan protes, para mahasiswa ini malah dituding telah dipersenjatai kelompok tertentu untuk menjatuhkan istrinya.
Keluarga Cendana tambah menjadi-jadi di era 80-an. Tahun 1984, putra bungsu Soeharto, Tommy, serta kakaknya, Sigit Harjojudanto gigih berbisnis.
Mereka berdua melakukan lobi, bagaimanapun caranya mereka bisa menguasai kegiatan bisnis BUMN, walau harus menjadikan nama ayahnya sebagai senjata.
Proteksi Soeharto tampak mencolok saat Bambang Tri ingin mendirikan saluran televisi Rajawali Citra Televisi Indonesia atau RCTI.
Tepatnya pada tahun 1988, dengan mudahnya pemerintah mencabut larangan televisi komersial demi melancarkan bisnis Bambang Tri, keluarga Cendana.
Tutut, putri Soeharto tidak mau kalah dalam hal ini. Ia juga mendirikan Televisi Pendidikan Indonesia atau TPI dan menggunakan fasilitas TVRi secara gratis.
Tingkah keluarga Cendana ini tidak hanya menarik perhatian dalam negeri saja. Mantan perdana menteri Singapura, Lee Kuan Yew, turut menyorot.
Dalam buku biografinya, disebutkan bahwa ia pernah menegur putra-putri Soeharto agar tidak memanfaatkan jabatan untuk meraup kekayaan. ***