32 Tahun Menjadi Presiden, Begini Kisah Pernikahan Soeharto dengan Siti Hartinah di Suasana Perang

inNalar.com – Setelah pertemuannya dengan keluarga Siti Hartinah, kedua keluarga pun mencapai kata sepakat untuk menentukan waktu pernikahan.

Pada saat itu, memang kondisi dalam negeri masih belum stabil setelah kemerdekaan.

Masih banyak tantangan bagi negara berusia 2 tahun tersebut untuk mempertahankan kemerdekaan.

Baca Juga: Ibu Tien Istri Soeharto Terciduk Manfaatkan Sumbangan Pejabat untuk Bangun TMII Jakarta tapi Malah…

Solo merupakan tempat bersejarah bagi kisah percintaan Soeharto dan Siti Hartinah.

Tepatnya pada tanggal 26 Desember 1947, Soeharto berangkat dari Yogyakarta menuju Solo menggunakan kendaraan dinas.

Soeharto menggunakan pakaian pengantin dengan sebilah keris di punggungnya.

Baca Juga: Pertamina Punya Banyak Hutang Gegara Soeharto Lakukan Praktik ‘Koncoisme’: Pura-Pura Tak Tahu Sampai Akhirnya…

Soeharto berangkat ditemani oleh Sulardi yang sepanjang jalan terus menerus menggodanya.

Pernikahan berjalan dengan lancar dan meriah di sore hari dan banyak orang datang menghadiri pernikahan itu.

Sebagian besar dari mereka merupakan keluarga dan teman-teman pengantin wanita.

Baca Juga: Sukses Tekan Angka Kemiskinan, Soeharto Berhasil Ubah Sulap Persentase dari 60 Menjadi 11,34

Mengingat keluarga Pak Soemoharjono cukup terpandang dan disegani di kota ini.

Dilansir inNalar.com dari buku Biografi daripada Soeharto, pada malam harinya, seperti layaknya adat Jawa diadakan slamatan atau syukuran.

Tidak banyak cahaya yang bisa digunakan selama berlangsungnya upacara slamatan ini.

Situasi perang membuat semua orang berhati-hati karena ada kemungkinan Belanda melancarkan serangan melalui udara.

Oleh karena itu, upacara tersebut hanya menggunakan lilin sebagai satu-satunya sumber penerangan.

Tiga hari setelah pernikahannya, Soeharto membawa istrinya ke Yogyakarta.

Disanalah tempat Siti Hartinah memulai kehidupannya yang baru sebagai istri dari Komandan Resimen.***

 

Rekomendasi