Didukung Nasution, Soeharto 2 Kali Menolak Perintah Soekarno Saat G30S Terjadi: Kami Tak Menolak, Tapi…

inNalar.com – Peristiwa G30S atau Gerakan 30 September yang dilakukan oleh PKI meninggalkan luka yang cukup dalam.

Pada kejadian G30S ini, setidaknya enam petinggi TNI Angkatan Darat harus kehilangan nyawa mereka.

A.H. Nasution yang saat itu berhasil menyelamatkan diri dari PKI yang menyerang kediamannya, pergi ke Kostrad dengan ditemani Letkol Hidayat Wiryasonjaya.

Baca Juga: Keuangan Negara Tekor Rp18 Miliar Gara-gara Dokumen Fiktif Angkutan Batubara di Sumatera Selatan, Benarkah?

Mayor Jenderal Soeharto, yang saat itu berada di Kostrad, menyambut kedatangan A.H. Nasution dengan sebuah rangkulan.

Kedatangan A.H. Nasution yang merupakan Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan/Kepala Staf Angkatan Bersenjata menjadi sebuah dukungan psikologis pada Soeharto yang saat itu tengah menghadapi perpecahan di tubuh militer.

Malamnya di hari yang sama, Soeharto membuat pengumuman tentang telah terjadinya coup atau kudeta melalui RRI.

Baca Juga: Perusahaan Tambang Nikel di Maluku Utara Kuasai Lahan Hingga Merusak Lingkungan Sekitar, Benarkah?

Dalam pengumumannya tersebut, juga disebutkan tentang kelompok kontrarevolusioner yang menculik serta membunuh enam perwira tinggi TNI Angkatan Darat.

Selain kedua hal tersebut, Soeharto juga mengumumkan kepada rakyat bahwa keadaan Presiden Soekarno saat itu sedang dalam keadaan aman dan sehat.

Pada malam yang sama, datang Kolonel KKO Bambang Widjanarko ke Kostrad. Kedatangannya ini adalah untuk menyampaikan order atau perintah dari Presiden Soekarno.

Baca Juga: Diduga Langgar Pantangan, Wisata Alam Hits di Rembang Jawa Tengah Ini Berubah Jadi Terbengkalai, Lokasinya…

Kolonel KKO (saat ini Korps Marinir) Bambang Widjanarko menyampaikan jika Presiden Soekarno mengundang Pranoto Reksosamudro untuk menghadap ke Presiden.

Dilansir inNalar.com dari buku Biografi Daripada Soeharto, setelah mendengar hal tersebut, Soeharto menolak permintaan Presiden secara langsung.

Penolakan ini adalah yang kedua setelah dia melarang Umar Wirahadikusumah untuk memenuhi panggilan Soekarno menuju Halim.

Kedua penolakan tersebut Soeharto lantaran dia tidak menginginkan bertambahnya jumlah korban dari TNI Angkatan Darat.

Selain karena kekhawatiran tersebut, apa yang dilakukan Soeharto juga menjadi bentuk kekecewaan karena terdaat campur tangan pihak luar terhadap keberlangsungan TNI Angkatan Darat.

“Kami tak menolak order Presiden, tetapi, order itu belum bisa dilaksanakan,” kata Nasution kepada utusan Presiden Soekarno.

“Mayjen Soeharto sedang memimpin operasi dan tentulah tak dapat diberhentikan begitu saja,” lanjutnya.

A.H. Nasution juga sudah menyampaikan sebelumnya kepada Panglima AL, Martadinata, dan Panglima KKO, Hartono, untuk membela “order tetap” dari intervensi Presiden.

Pada “order tetap” tersebut, pengganti Letnan Jenderal Ahmad Yani yang terbunuh dalam peristiwa G30S adalah Soeharto.***

 

Rekomendasi