

inNalar.com- Dusun Wotawati, yang berada di Kabupaten Gunung Kidul ini memiliki keunikan tersendiri.
Tepatnya, dusun ini berada di Desa Pucung, kecamatan Giri Subuh, Kabupaten Gunung Kidul, Yogyakarta.
Dilansir dari YouTube Senyum Indonesia, diketahui bahwa dusun ini memiliki bentuk yang eksotis karena berada seperti di cekungan tanah yang tandus.
Menariknya, warga di wilayah ini tidak pernah melihat matahari terbenam atau terbit.
Lingkungan yang dikelilingi oleh lembah dan perbukitan menjadi penyebab dusun ini baru bisa merasakan sinar matahari pukul 08.00 pagi atau bahkan lebih.
Sorenya, matahari sudah tidak nampak lagi pada pukul 15.00. Jika kondisi cuaca sedang cerah, maka dusun akan mendapat sinar kurang lebih selama 6 jam saja.
Baca Juga: Resmi! Golkar Usung Gibran Jadi Bakal Cawapres Prabowo di Pilpres 2024, PAN Bakal Menyusul?
Meski begitu, warga yang mayoritasnya merupakan seorang petani, tetap merasa bahagia dengan keadaan tersebut. Perbukitan yang berada di sekitarnya, memang membuat matahari susah menembus ke tempat penduduk.
Di huni oleh kurang lebih 500 jiwa, dusun Wotawati juga berada di sekitar perhutanan dan alam yang masih sangat alami dengan persawahan hijau.
Hal tersebut membuat setiap orang yang datang kesini merasakan kedamaian dan ketentraman.
Dusun ini berada 73 km dari pusat kota Yogyakarta, sehingga membutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk sampai ke lokasi ini.
Dulu, dusun ini merupakan aliran sungai Bengawan Solo purba yang mengering jutaan tahun yang lalu.
Saat itu, masyarakat pun kemudian menjadikannya sebagai tempat pertanian, hingga disusul dengan membangun pemukiman masyarakat.
Inilah yang menjadikan dusun Wotawati terletak di dalam ceruk dan diapit oleh dua bukit besar.
Dipastikan bahwa aliran Sungai Bengawan Solo purba dulu, mengaliri daerah-daerah dataran rendah sekitarnya, khususnya di kawasan dusun ini dengan aliran air yang rendah.
Aliran Sungai Bengawan Solo yang sekarang dan purba memang memiliki kesamaan, yakni hulunya berasal di wonogiri, Jawa Tengah.
Namun Bengawan Solo Purba alirannya mengalami perubahan. Jika awalnya bermuara di Pantai Sadeng, Gunung Kidul, kini bermuara jauh ke Gresik, Jawa Timur.
Hal ini terjadi usai pengangkatan tektonik yang terjadi pada jutaan tahun yang lalu menurut para ahli.
Awalnya, sistem aliran sungai Bengawan Solo Purba mengairi dataran rendah disekitarnya yang condong ke arah Selatan.
Namun karena adanya pengangkatan tektonik pegunungan tersebut, maka aliran sungai berpindah ke arah utara.
Jika melakukan perjalanan ke kawasan dusun Wotawati, maka akan ditemukan jalanan yang menurun dan berbelok, namun tidak berbahaya karena keadaan jalannya yang cukup baik.
Inilah gambaran dusun di Jawa Tengah yang memiliki berbagai keunikan karena sempat menjadi aliran Sungai Bengawan Solo purba, dan kurangnya pancaran sinar matahari di wilayah tersebut.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi