Ironis! Serangan Israel di Jalur Gaza Mulai Bikin Korban Anak-anak Trauma, Ada yang Ketakutan hingga Kejang

InNalar.com – Perang Israel dengan Kelompok Hamas di Gaza terus berlangsung hingga saat ini.

Pihak Amerika Serikat sendiri juga terus berjanji akan berusaha mengirim bantuan kemiliteran kepada Israel.

Adapun, Amerika Serikat akan mengirim bantuan berupa rudal pertahanan.

Baca Juga: Punya Harta Tanah Senilai Rp6 Miliar, Bupati Sintang Jarot Winarno Pernah Raih Penghargaan Ini

Sebelumnya, Amerika juga sudah mengirim militer angkatan laut, dua buah kapal induk, dan kapal pendukung dengan jumlah 2000 marinir.

Sementara itu, perang Israel- Hamas juga dikhawatirkan akan terus menjalar ke wilayah Timur Tengah seperti Libanon.

Bagaimana tidak? Kelompok Hizbullah asal Libanon ini juga telah melakukan bentrokan dengan Israel di area perbatasan utara Israel Libanon. Bentrokan tersebut juga dinilai paling mematikan.

Baca Juga: Jadi yang Termuda, Kekayaan Bupati Dharmasraya Sumatera Barat Ini Sempat Anjlok Rp8,8 Miliar dalam Setahun?

Hizbullah sendiri merupakan salah satu kelompok pendukung Hamas dalam perang dengan Israel.

Sejak 7 Oktober 2023 waktu setempat, 24 anggota Hizbullah sudah tewas akibat perang tersebut.

Pihak Israel yang terus menggempur Gaza, juga melakukan serangan udara untuk yang kesekian kalinya pada hari Minggu.

Baca Juga: Butuhkan Dana Rp680 Miliar, Inilah 4 Fakta Menarik Pembangunan Bandara VVIP IKN yang Perlu Diketahui!

Di sisi lain, Israel juga sudah menyiapkan sejumlah tank dan pasukan di perbatasan dekat Gaza.

Persiapan tersebut untuk membantu rencana mereka dalam melakukan invasi darat, agar kelompok Hamas segera musnah.

Adapun menurut Kementrian Kesehatan Gaza, akibat serangan udaran dan rudal Israel. Warga Palestina sejumlah 4.741 orang tewas dan 15.898 orang mengalami luka-luka.

Ironisnya lagi, anak-anak Gaza korban pengeboman Israel sudah mulai menunjukkan gejala trauma.

Adapun, gejala taruma yang serius dialami oleh anak anak Gaza atas pengeboman tersebut ialah kejang-kejang, mengompol ketakutan, perilaku agresif, gugup dan tidak mau meninggalkan orang tua mereka.

Jumlah anak-anak di Gaza sendiri separuh dari 2,3 juta penduduk Gaza.

Mereka sendiri masih tinggal di pengungsian yang semakin padat dan belum menjadi tempat aman.

Hal ini karena tempat-tempat tersebut masih menjadai sasaran pengeboman berkali-kali.

Anak-anak dan penduduk Gaza sementara masih tinggal di pengungsian seperti sekolah-sekolah yang dikelola oleh PBB. Tiap ruang kelas bisa dihuni sekitar 100 orang.

Kendala jumlah kebutuhan air, listrik, dan makanan yang semakin menipis, juga berpengaruh terhadap kebersihan area tersebut.

Bahkan, tempat pengusian seperti kamar mandi dan toilet keadaannya sangat kotor.

Selain itu, saat malam hari terkadang anak-anak tidak sengaja buang air kecil dan tidak punya waktu untuk mebersihkannya

Kurangnya tempat yang aman bagi para penduduk Gaza, khususnya anak-anak terus menciptakan rasa takut bagi mereka.*** 

Rekomendasi