

inNalar.com – Gunung berapi aktif yang terdapat di NTT ini kembali keluarkan lahar panas pada Selasa kemaren (24/10).
Gunung api Ili Lewotolok menjadi gunung berapi yang masih aktif di Indonesia. Menjadi salah satu gunung berapi yang sering erupsi di tahun ini.
Diketahui Indonesia memang menjadi tempat berkumpulnya gunung berapi, karena berada di tiga lempeng Eurasia, Indo-Australia, serta pasifik.
Tak heran banyak gunung api yang masih sering mengeluarkan lahar panas dari mulut gunung. Tercatat ada tiga gunung api aktif yang sering erupsi.
Gunung Ili Lewotolok, dengan 77 kali erupsi, Gunung Anak Krakatau dengan total erupsi sebanyak 62 kali, serta Gunung Ibu dengan jumlah letusan 46 kali.
Dengan seringnya terjadi erupsi, pos pantauan Gunung api Lewotolok harus sigap dalam memantau pergerakan yang terjadi disana.
Hal itu merupakan langkah tanggap bencana yang harus dilakukan oleh PVMBG guna mengantisipasi adanya korban berjatuhan akibat lahar panas.
Karena seringnya terjadi erupsi, membuat warga setempat juga sudah memiliki inisiatif untuk melakukan pencegahan dengan menggunakan alat pelindung pernapasan maupun kulit.
Efek dari letusan dan erupsi gunung Ili Lewotolok sangat berimbas kepada masyarakat yang hidup di sekitaran kaki gunung tersebut.
Baca Juga: Inilah Kisah BRInita di Jayapura, Urban Farming Jadi Gaya Baru Bertani di Lahan Sempit
Imbauan tersebut juga ditujukan oleh PVMBG kepada masyarakat Desa Lamatokan dan Desa Jamantona, desa terdekat dari kaki gunung Ili Lewotolok.
Dilansir dari ANTARA, letusan dari gunung Ili Lewotolok tersebut mengeluarkan abu yang cukup padat. Hingga mampu mengarahkan abu tersebut 500 meter ke arah barat dan barat laut.
Bahkan di letusan yang kedua, abu vulkanik tersebut mampu menggiring awan panas hingga jarak 600 meter ke arah barat.
Berdasarkan laporan yang ditulis oleh tim PVMBG (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi) letusan gunung api Lewotolok terjadi selama dua kali.
Pertama pada pukul 05.08 WITA waktu setempat, yang kedua terjadi pada pukul 05.17 WITA waktu setempat.
PVMBG juga menghimbau kepada masyarakat sekitar gunung api Lewotolok untuk bersiap siaga dan waspada terhadap abu vulkanik yang mengarah ke permukiman.
Meskipun menurut PVMBG abu vulkanik masih jauh dari permukiman setempat, namun harus tetap hati-hati dengan bencana yang datang kapan saja.
Menurut Stanislaus Ara selaku petugas pos pengamatan, di sekitar Gunung Api Lewotolok memang terdapat pemukiman warga, tepatnya di lembah dan hilir sungai.
Sehingga masyarakat juga harus waspada sewaktu-waktu terhadap potensi ancaman lahar panas maupun dingin ketika memasuki musim penghujan. ***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi