

inNalar.com – United Nations Children’s Fund atau UNICEF mengungkapkan bahwa serangan Israel ke Gaza merupakan noda bagi hati nurani mereka.
Bom-bom yang diluncurkan melalui udara oleh Israel telah menewaskan setidaknya 2.360 anak dalam waktu kurang dari 3 pekan.
UNICEF juga menyerukan untuk segera memberikan bantuan akses kemanusiaan berkelanjutan kepada Gaza.
Badan organisasi ini juga menyerukan agar Israel tidak menghambat akses kemanusiaan di mana separuh penduduk Gaza masih berusia di bawah 18 tahun.
Terlebih, saat ini sebanyak 5.364 anak di Gaza telah terluka akibat serangan Israel yang tidak ada hentinya.
Melansir dari Al Jazeera, UNICEF juga mengungkapkan bahwa telah ada sekitar 400 lebih anak yang dilaporkan meninggal atau terluka setiap harinya di daerah Gaza yang terkepung.
Kejadian tragis ini bermula pada tanggal 7 Oktober 2023 di mana kelompok Hamas Palestina melancarkan serangan secara mendadak kepada Israel.
Korban tewas dari kalangan zionis tersebut mencapai 1.400 orang.
Sementara itu, Israel kini meluncurkan serangan bom udaranya tanpa henti.
Kemudian telah menewaskan lebih dari 1.400 orang. Tercatat sedikitnya sebanyak 5.791 orang yang telah terbunuh akibat kejadian sadis ini.
Belum lagi anak-anak merupakan 50 persen populasi penduduk di daerah Gaza dengan jumlah sekitar 2,3 juta jiwa.
Adele Khodr, seorang Direktur Regional UNICEF untuk Timur Tengah dan Afrika Utara menyampaikan bahwa situasi yang saat ini terjadi telah menodai hati nurani mereka.
Bagaimana tidak, tingkat kematian anak dan korban luka-luka di bawah umur pada kawasan ini terbilang cukup tinggi dan sangat mengejutkan.
Adapun yang lebih menakutkan lagi adalah kenyataannya ketegangan masih merajalela dan bantuan kemanusiaan terhambat.
Termasuk pasokan bahan bakar, makanan air, hingga peralatan medis.
Jumlah korban setiap harinya juga akan terus bertambah sehingga dapat menyebabkan trauma yang sangat menyedihkan.
Akses pendidikan juga terhenti sedangkan sekolah-sekolah terpaksa dijadikan lokasi untuk menampung para pengungsi.
Rumah sakit dan stasiun pompa air juga mengalami kerusakan akibat serangan udara Israel.
Padahal, ada banyak bayi baru lahir yang harus dirawat di inkubator, sedangkan pasokan listrik sangat terbatas sehingga menjadi persoalan antara hidup dan mati.
Saat rumah sakit mengalami kekurangan pasokan listrik maka akan menjadi gelap.
Anak-anak bahkan meminum air yang tidak aman, mereka juga tidak mendapatkan akses obat-obatan yang cukup saat sakit.***