

inNalar.com – Sejak 7 Oktober lalu, gencatan senjata antara Israel dan Hamas belum juga usai.
Hamas, meskipun sedang berperang, mereka tetap menghormati ajaran Al-Qur’an, tidak dengan Israel.
Hamas beberapa kali dikabarkan membebaskan tawanan lansia, perempuan, dan anak-anak. Namun Israel, justru sebaliknya.
Kabar duka datang dari sosok yang menjadi pilar jurnalis di Gaza, Wael Dahdouh, ia harus kehilangan keluarganya.
Israel meluncurkan serangan udara tanpa pandang bulu, kemarin 25 Oktober, menargetkan kamp Nuseirat, tempat pengungsian di Gaza.
Dilansir inNalar.com dari Al-Jazeera, para jurnalis di Gaza telah mendapat ancaman selama 19 hari berturut-turut sebelumnya.
Para jurnalis, termasuk Wael Dahdouh, tidak ingin meninggalkan kota Gaza, mereka harus melaporkan korban pengeboman Israel.
Wael Dahdouh telah berfirasat, pihak Israel tidak mungkin membiarkan para perempuan, anak-anak, dan warga sipil pergi tanpa menghukum mereka.
Ia mendengar kabar bahwa Nuseirat menjadi salah satu target pengeboman, dan itulah yang terjadi.
Lingkungan keluarga Wael Dahdouh, sebelumnya telah dibom oleh Israel. Mereka mencari perlindungan di Nuseirat, namun akhirnya dibom juga.
Atas kejadian ini, Wael Dahdouh harus kehilangan istri, putra, putri, dan satu cucunya. Sementara keluarga lainnya tertimbun tanah.
Istri, putra, putri, dan cucunya dilarikan ke Rumah Sakit Martir Al-Aqsa di Deir el-Balah, dan tak ada yang selamat.
Putra Wael Dahdouh yang bernama Mahmoud, berusia 15 tahun, adalah anak yang sangat ingin menjadi jurnalis seperti ayahnya.
Para jurnalis mengecam komunitas internasional atas kejadian ini. Perbuatan Israel sudah di luar batas dan tidak bermoral.
Para jurnalis di Gaza juga mendesak komunitas internasional agar segera bertindak dan mengakhiri serangan Israel terhadap warga yang tidak bersalah. ***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi