

inNalar.com – Bendungan terbesar di Sumatera Barat ini bermula dari sebuah inisiasi Kementerian Pekerjaan Umum di tahun 1998 untuk menyelesaikan permasalahan irigasi di Kabupaten Dharmasraya.
Meski bendungan di Sumatera Barat ini baru selesai dibangun pada 2006, dampak pengairan lahan seluas 5 ribu hektare di Dharmasraya langsung terasa di areal persawahan milik warga.
Bendungan Batang Hari Sumatera Barat kini juga menjadi proyek inovasi pariwisata Pemerintah Kabupaten Dharmasraya guna melapangkan peluang kerja bagi masyarakat sekitarnya.
Infrastruktur yang juga disebut dengan Batu Bakawik ini ternyata tidak hanya sekadar menjadi sarana pengairan areal persawahan dan objek wisata saja.
Badan bangunan bendungan Batang Hari atau Batu Bakawik ini ternyata juga digunakan sebagai jembatan penghubung dua kampung di Kabupaten Dharmasraya, Sumatera Barat.
Infrastruktur yang merangkap sebagai jalan penghubung ini berhasil membuka koneksi antara Kampung Momong dan Kampung Baru Kenagarian Sungai Kambut.
Baca Juga: Kuras Anggaran Rp1,7 Triliun, Bendungan 126 Hektar di NTB Ini Bakal Aliri Sawah hingga 3500 ha
Memilukannya, dahulu warga kedua kampung tersebut selalu menggunakan perahu kecil untuk menyeberangi Sungai Batang Hari.
Namun usai Bendungan Batang Hari tuntas dibangun, masyarakat semakin memiliki akses yang lebih mudah dan distribusi barang dan jasa semakin lancar di antara kedua daratan yang terpisah sungai tersebut.
Bisa jadi itulah mengapa, proses pembangunan waduk terbesar di Sumatera Barat ini tidak memiliki kendala berarti meski memakan lahan yang tidak sedikit.
Apabila biasanya pembangunan infrastruktur waduk terbesar bisa menyebabkan adanya gesekan permasalahan dengan masyarakatnya, maka tidak dengan bendungan yang satu ini.
Permasalahan tersendatnya pembangunan bendungan ini justru datang dari sebuah batu raksasa yang kini dinamakan sebagai objek wisata ‘Batu Bakawik’.
Dahulu Bakawik merupakan sebuah bongkahan batu besar yang menghambat proses konstruksi waduk.
Akhirnya, Batu Bakawik itu diangkut dengan alat berat excavator hingga akhirnya meninggalkan sebuah cerita yang diubah Pemerintah Kabupaten Dharmasraya menjadi objek wisata legendaris di Sumatera Barat.
Pembangunan infrastruktur megah pada masanya selalu menyebabkan dampak perubahan sosial – ekonomi bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Namun Bendungan Batang Hari ini menjadi secuil kisah pembangunan waduk tertua di Sumatera Barat yang benar-benar memberikan perubahan kolektif yang positif.
Mulai dari lapangan kerja yang terbuka sebab adanya pemanfaatan waduk sebagai objek wisata, areal persawahan yang teraliri dengan baik, hingga memperlancar konektivitas dua kampung yang terpisah oleh Sungai Batang Hari.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi