

InNalar.com – Peperangan antara Israel dan Hamas masih terus berlanjut. Bahkan, Israel terus melakukan pengeboman terhadap Palestina.
Menurut Menteri Luar Negeri Rusia sendiri berpendapat bahwa aksi Israel tersebut tidak sesuai dengan hukum internasional.
Bahkan, pengeboman Israel di Gaza bisa menyebabkan bencana dalam beberapa dekade di masa mendatang.
Diketahui, Rusia sendiri merupakan salah satu negara yang mencoba untuk memediasi antara Israel dan Hamas, sejak awal peperang terjadi.
Hingga saat ini, menurut Kementrian kesehatan Palestina sebanyak 7.650 Warga Palestina tewas sejak pengeboman Israel pada 7 Oktober 2023 waktu setempat.
Dilansir dari Reuters, aliran listrik di Palestina juga mulai terputus, sejak jumat malam waktu setempat. Hal tersebut membuat ambulanas terhalang dan susah mengevakuasi.
Parahnya lagi, warga Gaza yang terkepung di tengah-tengan serangan Israel, benar-benar tidak mempunyai akses komunikasi.
Sambungan internet dan telepon nyaris sepenuhnya putus, saat Israel mulai menggunakan jet untuk menjatuhkan bom di Palestina.
Oleh karenanya, berbagai pihak yang turut membantu Palestina, seperti kepala organisasi kesehatan dunia kesulitan untuk berkomunikasi dengan staf mereka yang turut membantu di sana.
Dengan demikian, pemadaman listrik dan pemutusan internet semakin memperburuk keadaan di Palestina.
Sementara itu, Israel juga melakukan serangan besar tahap kedua pada Hari Sabtu waktu setempat.
Dimana, Israel melakukan operasi darat untuk menyerang pasukan Hamas. Meski demikian, serangan tersebut belum bisa dipastikan betujuan untuk invasi atau bukan.
Sebelum serangan tahap kedua dilancarkan, Israel sendiri sudah mengirim pasukannya dan kendaraan lapis baja.
Israel sendiri saat ini fokus untuk menghancurkan pasukan Hamas yang sedang bersembunyi di bawah bangunan. Bahkan, Israel memakai jet untuk menjatuhkan 150 sasaran bawah tanah tersebut.
Beberapa negara seperti Lebanon, Suriah, Irak dan Yaman, juga terus mendukung Pasukan Hamas. Begitujuga dengan Rusia dan Turki yang turut mengecam tindakan Israel.
Tidak hanya perwakilan negara, salah satu pemilik media sosial terbesar di dunia, Elon Musk juga turut menawarkan bantuan Starlink SpaceX yang bisa mendukung konektivitas internet di Palestina.
Namun, upaya Elon Musk tersebut justru mendapat kecaman dari menteri komunikasi Israel. Bahwa, Israel tidak mengamini tindakan Elon tersebut. ***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi