

inNalar.com – Jembatan Ampera, merupakan salah satu ikon kebanggaan bagi masyarakat Palembang yang masih eksis hingga kini.
Keberadaan jembatan Ampera sudah dianggap sebagai revolusi kedua dari modernisasi Kota Palembang.
Terletak di tengah Kota, Jembatan Ampera menghubungkan daerah Seberang Ulu dan seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi.
Melansir dari Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Palembang, jembatan ini di bangun pada tahun 1962 dengan biaya pembangunan yang diambil dari harta rampasan perang.
Sebagai kompensasi Perang Dunia ke-II, pembangunan Jembatan Ampera dilakukan oleh karyawan dari PT Waskita Karya, PN Hutama Karya, dan Fuji Car Obayashi Gumi Jepang.
Sebelum jembatan ini di bangun, perhubungan antara wilayah hulu dan Hilir dilakukan dengan perahu tambangan.
Namun setelah dibangunnya Jembatan Ampera, hubungan antara hulu dan hilir seolah-olah tidak ada lagi yang membatasi.
Sehingga Sungai Musi bukanlah lagi penghalang bagi masyarakat untuk ke seberang Ilir. Semua tampak mudah dan lancar, dengan tidak meninggalkan perahu tambang sebagai alat tradisional.
Bersatunya wilayah Hulu dan hilir dengan adanya Jembatan Ampera, serta lancarnya transportasi ketika itu membawa banyak perubahan.
Terutama pada aktivitas perdagangan ruang air pada tahun 1920 hingga 1970 an atau pada abad ke XX.
Sebagaimana Sungai Musi yang terletak di tengah Kota, memang menjadi pusat segala aktivitas yang dilakukan oleh masyarakat Palembang.
Masa itu menggambarkan kesibukan perahu dayung dan kapal yang berlalu lalang di perairan. Jika Jawa terkenal dengan watak petani, maka Palembang dari dulu memang terkenal dengan watak dagang.
Namun setelah beberapa waktu, kehadiran Jembatan Ampera membuat Sungai Musi semakin ditinggalkan.
Lalu lintas darat yang berjalan lancar, membuat perhubungan di Sungai Musi dan transportasi air sudah digantikan menjadi kendaraan darat.
Banyak pedagang juga, yang mulai mengangkut dagangannya menggunakan jalur darat, seperti buah-buahan, kopi dan lainnya.
Oleh karena itu, keberadaan sistem mekanis pengangkat Jembatan di Jembatan Ampera, yang berfungsi memudahkan kapal melintas tanpa ada gangguan, juga ikut terbengkalai.
Tepatnya pada tahun 1970, sistem tersebut sudah tidak diangkat lagi, hingga bandul pemberatnya di bongkar di tahun 1990, karena dikhawatirkan dapat membahayakan pengguna jembatan.
Alasan lain sistem pengangkat Jembatan di Ampera sudah tidak digunakan, juga karena waktu yang dibutuhkan dapat menghambat arus lalu lintas.
Untuk mengangkat jembatan Ampera dibutuhkan waktu sekitar 30 menit, dan belum ditambah dengan masa penurunannya, yang jika dihitung keseluruhannya dapat memakan waktu 1 jam.
Hal ini kemudian menjadi pertimbangan mengapa sistem mekanis pengangkat Jembatan Ampera sudah tidak pernah lagi diangkat.
Inilah gambaran sejarah Jembatan Ampera hingga akhirnya tidak lagi bisa diangkat maupun di turunkan.***