

inNalar.com – Indonesia, telah banyak membangun berbagai macam jembatan, di seluruh pusat Kota bahkan sampai pelosok negeri.
Jembatan Ampera menjadi salah satu yang dibangun di Indonesia, tepatnya di tengah Kota Palembang, Sumatera Selatan.
Keberadaan Jembatan Ampera menjadi ikon tersendiri bagi Kota Palembang, sehingga menambahkan kesan menawan dan megah.
Dilansir dari laman kemenparekraf, diketahui bahwa jembatan ini pernah jadi yang terpanjang di Asia Tenggara.
Awalnya, jembatan Ampera di bangun pada tahun 1962 dengan biaya pembangunan yang diambil dari rampasan perang Jepang, tepatnya saat Perang dunia ke-II.
Dibangun membentang menghubungkan Ulu dan seberang Ilir yang terpisah karena keberadaan Sungai Musi.
Jembatan Ampera, menjadi salah satu kebanggaan tersendiri bagi masyarakat kala itu, khususnya di bidang ekonomi
Ide pembangunan Ampera sebenarnya sudah ada sejak zaman pemerintahan kolonial Belanda pada 1906.
Sebagaimana menghubungkan dua daerah hilir dan hulu sangatlah penting kala itu, namun baru direalisasikan pada tahun 1957.
Baca Juga: Dimiliki WNA, Wonderia Semarang Kini Terbengkalai, Diklaim Tak Mengindahkan Petuah Keramat, Apa Itu?
Nama Ampera, didapat dari singkatan Amanat Penderitaan Rakyat yang disamakan dengan slogan bangsa Indonesia pada tahun 1960.
Jembatan ini memiliki panjang 1.177 meter, dan tinggi 11,5 meter di atas permukaan air, serta lebarnya 22 meter.
Sedangkan tinggi menara Ampera mencapai 63 meter dari permukaan tanah, dengan jarak antara menara 75 meter.
Hingga akhirnya pada tahun 1965, Jembatan Ampera tercatat menjadi yang terpanjang di Asia Tenggara.
Keberadaannya mempermudah perdagangan antar masyarakat dari Hilir ke Hulu, serta memperlancar transportasi.
Setelah pembangunan Jembatan di Palembang Sumatera Selatan ini, perdagangan di perairan juga semakin ramai.
Sehingga pada awal pembuatannya, semua bagian tengah Jembatan bisa diangkat agar kapal-kapal besar bisa lewat dengan mudah.
Namun sejak 1970, bagian tengah dari Jembatan Ampera tidak pernah diangkat lagi, hingga bandul pemberatnya dibongkar pada tahun 1990 agar tidak membahayakan.
Hal ini karena pusat perdagangan modern mulai bermunculan di sepanjang jalan, hingga menjadi pasar permanen yang biasa disebut dengan Pasar Benteng.
Aktivitas perdagangan sudah mulai dilakukan melalui jalur darat, tepatnya di atas jembatan, seperti distribusi buah-buahan, kopi, beras, dan lainnya.
Meski begitu, saat itu masih dapat ditemukan perahu-perahu kecil di sekitar jembatan meskipun jumlahnya semakin sedikit dan berkurang.
Inilah gambaran dari jembatan di Palembang yang sempat tercatat sebagai terpanjang di Asia Tenggara.***