

inNalar.com – Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas atau KPPIP masih terus berusaha membangun jalur KA Rantau Prapat-Duri-Pekanbaru riau.
Pasalnya hal ini sangat dibutuhkan, mengingat banyaknya kecelakaan pada jalur darat lintas Timur Riau menuju Pelabuhan Dumai.
Jika melihat pada sejarah sebagaimana dilansir inNalar.com dari ANTARA, pada tahun 2015 pemerintah Indonesia sudah menerbitkan surat keputusan.
Baca Juga: Unik! Sumatera Utara Ternyata Miliki Pemandian Air Soda Sejak 1976, Jadi Satu-satunya di Indonesia?
Yaitu tentang penetapan jalur kereta api umum nasional Trans Sumatera lintas Rantau Prapat-Duri Riau, yang diterbitkan oleh menteri perhubungan RI No: KP 666 tahun 2015.
Karena diketahui bahwa terdapat bangkai peninggalan sejarah, berupa pembangunan jalur kereta api sepanjang 246 kilometer yang menghubungkan Muara Kalaban-Muaro hingga ke Pekanbaru.
Sehingga di sekitar rumah warga, juga dapat ditemui banyak tumpukan peninggalan kereta api lokomotif kuno, dan besi tua rel di Kota Pekanbaru Riau.
Sejarah transportasi perkeretaapian di Sumatera memang sudah tercatat sejak zaman penjajahan Belanda, tepatnya pada Abad 20.
Menurut data rencana kementerian perhubungan, pembangunan KA Sumatera Utara tepatnya pada jalur Rantau-Prapat-Duri-Dumai akan melewati 3 tahap pengerjaan yang akan dilakukan hingga 2024.
Tahap pertama dilakukan pada tahun 2012-2014, tahap II 2015-2019, dan tahap III pada 2020-2024.
Baca Juga: Ada Mushalla ‘Antik’ Nyempil di Tol Serang-Panimbang, Jalan Ini Menuju ke Taman Nasional Mana?
Adapun nantinya kereta api jalur ini akan menjembatani beberapa potensi alam yang dimiliki oleh Pulau Sumatera, khusunsya Provinsi Riau.
Seperti kelapa sawit dan tambang batubara, yang memiliki potensi besar di Provinsi Riau.
Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik, Pulau Sumatera memiliki lahan perkebunan kelapa sawit terluas di Riau pada tahun 2018-2020 dengan luas 2.850.003 hektare.
Selain itu, Riau juga punya tambang batubara yang berada di Kabupaten Indragiri Hulu dan Kuantan Singingi.
Cadangan batubara berkalori rendah di Indragiri Hulu diperkirakan mencapai 5 miliar metrik ton dan cadangan selama 64 tahun.
Sementara di Kabupaten Kuantan Singingi Riau, cadangan batubara kalori rendah terdapat di Daerah Cerenti.
Hingga kini, semua pengangkutan hasil sumber daya tersebut masih menggunakan truk dan trailer, yang menjadi sumber kecelakaan.
Salah satu alternatif transportasi lain yang harus dibangun adalah kereta api, sehingga tidak terjadi benturan antara pengangkutan orang dan barang.
Beberapa kendala yang ditemukan saat perealisasian kereta api ini adalah anggaran yang kurang memadai.
Seperti yang dirilis oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian pada 2021 lalu, pengadaan tanah Kereta Api Rantau Prapat-Duri-Dumai sudah direncanakan, namun sekarang masih pengerjaan di Provinsi Sumatera Utara karena kurangnya keterbatasan anggaran.***