

InNalar.com – Kehadiran berbagai infrastruktur di setiap daerah bertujuan untuk memberikan kemudahan akses hingga kenyamanan. Termasuk, dengan adanya infrastruktur jembatan.
Kota Solo Jawa Tengah sendiri mempunyai berbagai jembatan yang mempunyai sejarah serta arsitektur menarik.
Salah satunya, ialah Jembatan Mojo yang menjadi kebanggaan warga Solo. Jembatan ini dibangun pada tahun 1985 silam.
Jembatan Mojo bukan hanya sekedar menjadi jalur transportasi semata. Tetapi juga menghubungkan dua daerah berbeda.
Yaitu, Kota Solo dan Kabupaten Sukoharjo. Tepatnya, menghubungkan Pasar Kliwon dengan Mojolaban.
Sementara itu, sebelum Jembatan Mojo dibangun, ternyata area ini jadi dermaga pada masa Putra Mahkota Paku Buwono IV, yang bernama Raden Mas Sugandi.
Jembatan Mojo sendiri juga terkenal sebagai jembatan yang mempunyai sejarah dan dianggap sakral oleh sebagian masyarakat.
Di mana, terdapat Gapura megah peninggalan dari Paku Buwono X, yang terletak di sebelah kiri dan kanan jembatan Mojo.
Namun, letaknya yang berada di bawah jembatan, menjadikan masyarakat yang melintasi Jembatan Mojo terkadang tidak menyadari keberadaan gapura tersebut.
Adapun, pembangunan gapura ini dilakukan pada masa Paku Buwono X.
Kemudian, dulunya keberadaan Gapura tersebut sebagai penanda batas wilayah sekaligus penanda pintu masuk.
Uniknya, Gapura ini sudah menjadi cagar budaya yang ditetapkan oleh Pemerintah Kota Solo.
Perlu diketahui, saat akan melakukan renovasi atau revitalisasi jembatan, ada seorang budayawan yang menghimbau agar para pihak terkait untuk melakukan izin dan menjaga sopan santun.
Bahkan, sebelum renovasi itu dimulai dilakukan terlebih dahulu acara bancakan, dengan menyediakan jenang putih, jenang merah, hingga kembang tujuh rupa.
Hal tersebut sebagai bentuk penghormatan terhadap para leluhur yang sudah memulai terlebih dahulu terkait pembangunan jembatan Mojo ini.
Sementara itu, Pemerintah Kota Solo juga pernah merencanakan renovasi Jembatan Mojo pada tahun 2022, salah satunya dengan mengganti lantai beton ke bahan pelat baja ortotropik.
Sebelumnya, untuk melihat bagian mana yang perlu direnovasi, Pemerintah setempat melakukan investigasi dengan melakukan identifikasi pada baja tulangan, uji kerapatan dan keretakan beton, dan kdalaman karbonasi beton.
Renovasi saat itu dimulai pada bulan Agustus 2022 dan ditargetkan selesai pada Bulan November 2022.
Sedangkan, untuk biaya perbaikan jembatan Mojo ini berasal dari Dana Bantuan Gubernur, Dana Alokasi Khusus, dan APBD dengan jumlah mencapai Rp29,9 miliar.***