Pernah Hancur 200 Tahun Lalu, Benteng Keraton di Yogyakarta Ini Berpotensi Jadi Warisan Dunia, Kok Bisa?

inNalar.com – Benteng Baluwerti, merupakan salah satu bangunan kerajaan untuk melindungi wilayah inti keraton di Yogyakarta.  

Benteng ini telah menjadi saksi sejarah pemerintahan di Yogyakarta hingga ditetapkan sebagai ikon Kota.

Keraton Yogyakarta sendiri memiliki dua lapis tembok benteng, yaitu berupa tembok cepuri yang mengelilingi keraton, dan tembok berikutnya di namakan Baluwarti.

Baca Juga: Rutin Dirawat 3 Bulan Sekali, Jembatan Kaca di Yogyakarta Tawarkan Sensasi Menegangkan, Asuransi Disediakan?

Baluwarti punya kesamaan bunyi dengan kata baluarte yang asalnya dari Bahasa Portugis. Arti dari kata itu adalah benteng.

Dilansir inNalar.com dari laman resmi Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, diketahui bahwa benteng ini dibangun pada masa pemerintahan Sri Hamengku Buwono 1 dan selesai pada era pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono II.

Awalnya, benteng Baluwerti menjadi pertahanan serangan yang dilakukan oleh penjajah. Di setiap satu bentengnya memiliki 5 pintu sebagai akses, atau yang biasa disebut plengkung.

Baca Juga: Dibangun Sejak 1985, Jembatan di Kota Solo ini Terkenal Sakral, Ada Gapura Peninggalan Putra Mahkota Bernama..

Bentuk bentengnya mirip persegi empat, namun lebih besar bagian timur, dengan panjang 1200 meter ke barat, dan 940 meter ke selatan.

Desain Benteng Baluwerti berbeda dengan desain benteng kerajaan Mataram Islam sebelumnya, terutama pada gerbang-gerbang yang tersebar di segala penjuru.

Pada masa pemerintahan Sultan Hamengkubuwono II masih terus diperkuat lagi struktur benteng yang sudah diabngun.

Baca Juga: Bersejarah! Sudah Ada Sejak Abad 16, Sungai di Kota Solo Jawa Tengah ini Dulunya Jadi Jalur Tranportasi Air

Keberadaanya dalam masa penjajahan, memang sangat membawa ketegangan saat itu, sehingga perkuatan benteng Baluwerti terus dilakukan.

Benteng Baluwarti menjadi saksi bisu peristiwa Geger Sepoy yang terjadi pada 19-20 Juni 1812, tepatnya sekitar 200 tahun yang lalu.

Akibat kejadian peperangan tersebut, benteng ini hancur dan hanya menyisakan bastion, yakni Pojok Beteng Wetan, pojok Beteng Kulon, dan pojok Beteng Lor.

Tak hanya itu, gempa bumi di tahun 1867 juga membuat kerusakan parah di Yogyakarta, hingga beberapa dinding benteng terpaksa dibongkar.

Saat ini, sebagian besar benteng Baluwarti telah tertutup pemukiman warga, tidak ada jagang lagi yang tersisa

Dalam pantauan YouTube Agus Bintarto, saat ini pemerintah Yogyakarta terus melakukan pembugaran dan revitalisasi yang sejalan dengan program keistimewaan DIY.

Sehingga masyarakat masih bisa melihat kembali bangunan benteng Baluwarti yang menjadi saksi bisu sejarah.

Pengembalian benteng keraton ini juga menjadi bagian dari Sumbu Filosofi Yogyakarta yang telah sah diterima menjadi warisan Budaya Dunia (World Heritage).

Sumbu Filosofi Yogyakarta sendiri merupakan sebuah tata ruang yang bermakna, yang diakui sebagai warisan dunia karena dinilai memiliki arti penting secara universal.

Inilah gambaran dari benteng Baluwerti yang pernah hancur karena jadi saksi bisu sejarah di Yogyakarta.***

 

Rekomendasi