Israel Alami Musibah ‘Brain Drain’ Karena Yahudi Bertalenta Hobi Imigrasi, Masalahnya Mirip Indonesia?

inNalar.com – Israel merupakan sebuah negara yang kini tengah dikecam oleh masyarakat Dunia.

Hal tersebut akibat dari serangannya terhadap Palestina yang begitu membabi buta.

Tampak kuat dari luar, sebenarnya Israel memiliki kelemahan yang beberapa diantaranya sangat fatal dan bisa berakibat pada keruntuhan.

Baca Juga: Kalahkan Piramida di Mesir, Gunung Padang di Cianjur Jadi Situs Tertua di Dunia, Lebih Megah dari Borobudur?

Salah satu kelemahan yang dimiliki oleh Israel ini adalah saat ini Israel mengalami ‘Brain Drain’.

‘Brain Drain’ yang dimaksud ini maksudnya banyak orang-orang yang bertalenta di Israel meninggalkan negerinya untuk berkarya atau berkarier di negeri lain.

Sementara itu, orang yang berimigrasi ke Israel karena ia keturunan Yahudi dan belum tentu dia intelektual dan memberikan sumbangsih.

Baca Juga: Berusia 64 Tahun, Terowongan Stasiun Tugu Jogja Kini Tinggalkan Vibes Angker, Tampilan Dinding Berhiaskan…

Pada tahun 2017, setiap orang Israel yang memiliki gelar akademis dan kembali ke Israel dari luar negeri.

Pada tahun 2013, Hadiah Nobel bidang kimia diberikan kepada 3 orang Amerika dan 2 diantaranya lahir di Israel dan kini berimigrasi ke Amerika Serikat.

Sejak dari tahun 2008, lebih dari satu dari lima dosen di universitas yang ada di Israel meninggalkan negara tersebut untuk bekerja di universitas Amerika.

Baca Juga: Gunung Padang di Cianjur Guncang Dunia! Jadi Sorotan Media Dunia Internasional dan Terus Diteliti Ilmuwan

Masalah ‘brain drain’ imigrasi orang-orang yang sangat terlatih ini bukanlah masalah baru bagi Israel.

Masalah ini ternyata telah dialami oleh Israel selama kurang lebih hampir 20 tahun.

Salah satu alasan terjadinya ‘brain drain’ di Israel karena adanya beberapa pusat di dunia yang menjadi tempat berkumpulnya pada akademisi.

Ilmuwan-ilmuwan tersebut tertarik pada pusat-pusat yang jauh lebih besar seperti AS, Eropa, dan bangsa lainnya.

Para ilmuwan dari Israel sebagian besar imigrasi ke Amerika dimana Israel kehilangan akademisi dalam jumlah yang jauh lebih besar dibandingkan negara lain.

Negara tersebut menghasilkan 500 gelar PhD di bidang Ilmu Hayati, lembaga penelitian Israel hanya dapat menerima kurang dari 100.

Masalah ini sebenarnya mirip dengan apa yang dialami oleh Indonesia.

Banyak penerima beasiswa dari pemerintah yang bersekolah ke luar negeri memilih untuk bekerja di luar negeri daripada kemali ke negeri asalnya.

Tentunya hal ini harus mendapat perhatian dari pemerintah pusat dan memberikan sanksi tegas bagi penerima beasiswa yang enggan untuk kembali ke negeri asalnya.***

 

Rekomendasi