

inNalar.com – Keberadaan bendungan Keureuto, sudah lama diimpikan oleh masyarakat dan pemerintah setempat.
Pasalnya, rencana konstruksi yang dimulai sejak tahun 2015 lalu, telah menimbulkan banyak harapan baik untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Aceh.
Namun harapan masyarakat kini mulai memudar seiring berjalannya waktu. Hal ini disebabkan, proyek bendungan yang tak kunjung selesai.
Meski gunakan dana APBN yang cukup besar, yakni Rp 2,68 triliun, ternyata tidak membuat cepatnya pengerjaan pada proyek ini.
Melansir dari Biro Administrasi Pembangunan pemerintah Aceh, salah satu PSN yang dikenal mangkrak hingga 9 tahun karena kendala di pembebasan lahan ini, akan dilanjutkan kembali dan ditarget rampung pada 2023.
Pada awal tahun 2023 lalu, tepatnya bulan Maret, Kepala Biro Administrasi Pembangunan Robby Irza menyampaikan, pengerjaan bendungan ini mencapai 53%.
Baca Juga: 10 Lokasi SKD PPPK Update Lingkup Pemerintahan Daerah Bogor Beserta Tanggal dan Sesinya Lengkap
Sebelumnya bendungan diterget memiliki kapasitas tampung sebesar 215,94 juta/m3.
Serta dirancang memiliki tampungan khusus banjir sekitar 30,39 juta m3 atau sebesar 501,49 m3/detik. Sehingga nantinya dapat mengurangi debit banjir sampai periode ulang 50 tahun.
Banyaknya manfaat bendungan inilah, yang membawa semangat baru bagi masyarakat Aceh.
Baca Juga: Progres 80 Persen, 2 Seksi di Jalan Tol Padang-Pekanbaru di Sumatera Barat Ditargetkan Usai 2024
Terutama bagi kawasan hilir, yang dekat dengan keberadaan Sungai Krueng Keureuto.
Sungai tersebut, tergolong dalam tipe cabang emas dengan beberapa anak sungai, yang memberikan kontribusi aliran ke dalam alur Kreung, sehingga dapat menyebabkan puncak banjir tinggi di daerah hilir.
Maka dari itu, masyarakat dan pemerintah setempat di Aceh mengharapkan bendungan ini segera dituntaskan.
Disamping itu, Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA) dari Dapil, Tantawi mengatakan, lambannya proyek tersebut telah menimbulkan berbagai masalah serius bagi masyarakat.
Setiap tahun, masyarakat di beberapa Kecamatan seperti Matang Kuli, Paya Bakong, Pirak Timu, dan bahkan ibu kota Aceh Utara Lhoksukon, menghadapi risiko banjir yang merugikan.
Mangkrknya bendungan ini tidak hanya mengganggu efektivitas pertanian, namun juga kerugian yang signifikan bagi kebun dan sektor peternakan.
Padahal, masyarakat setempat berharap agar proyek ini bukan hanya menjadi sumber air dan daya listrik, tetapi juga alat untuk mengurangi banjir bandang yang menghantui mereka.
Hingga para petani dan peternak juga mengharapkan bisa membayar pendidikan anak dengan usahanya, karena ketika banjir datang, semua seakan sirna.
Untuk itu, penyelesaian segera bendungan Keureuto dari pihak berwenang sangat diharapkan, sebagaimana ditarget rampung tahun ini.
Sehingga dapat cepat selesai, dan memberi manfaat seperti apa yang sudah diharapkan masyarakat Aceh Utara.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi