

inNalar.com – Siapa sangka mall di Jakarta Pusat yang berdiri pada 17 Agustus 1962 ini menjadi simbol kemajuan perekonomian dan proses awal mula modernisasi di Indonesia.
Namun pernahkah kita menelisik bagaimana bisa masa adaptasi ekonomi Indonesia yang masih berada di tahap awal pembangunan nasional sejak kemerdekaan 1945 ini bisa menelurkan sebuah bangunan mall megah yang berlokasi di Jakarta.
Bahkan hingga kini, pusat perbelanjaan pertama yang berada di jantung Kota Jakarta ini berhasil memantapkan posisinya sebagai mall tertua di Indonesia, bahkan bangunan megahnya masih bisa disaksikan masyarakat saat ini.
Uniknya, kondisi perekonomian negeri pada tahun 1959 tengah merosot, sehingga sekilas kurang mungkin keberadaan pusat perbelanjaan ini bisa tampil megah.
Apabila ditarik garis kesejarahannya, belum banyak diketahui oleh publik bahwa ternyata sumber pendanaan pembangunan Mall Sarinah yang berada di Jakarta Pusat ini berasal dari dana tidak terduga, apa itu?
Sebagai kelanjutan dari penandatanganan Perjanjian San Fransisco yang dilaksanakan pada 20 Januari 1958, rupanya Pemerintah RI bersepakat dengan pihak Jepang terkait adanya pembiayaan ganti rugi imbas pendudukan.
Baca Juga: Dibangun Langsung Soekarno, Mall Pertama di Jakarta Ini Simpan Banyak Harta Karun Berharga Indonesia
Pembiayaan ganti rugi dari pihak Jepang untuk Pemerintah Indonesia terdiri dari dana pampasan perang yang nominalnya mencapai USD 223,080 juta.
Selain itu, ada pula kesepakatan dari negeri Sakura itu untuk menanamkan modal dan memberikan pinjaman hingga USD 400 juta. Hasil kesepakatan tersebut menjadi simbol perjanjian damai antara kedua belah pihak.
Dana pampasan perang yang diberikan Jepang tersebut akhirnya resmi mulai disalurkan oleh Pemerintah Indonesia untuk melakukan pembangunan nasional, salah satunya adalah Mall Sarinah di Jakarta Pusat.
Baca Juga: Berburu Kuliner di Mall Sarinah Thamrin Jakarta, Cocok Buat Menikmati Weekend Bareng Keluarga!
Melansir dari laman PT Sarinah, awalnya nama yang akhirnya disematkan pada pusat perbelanjaan legendaris ini adalah sebuah BUMN yang menjadi pelopor perusahaan yang berhasil memberikan wadah produk UMKM dalam negeri.
Mall Sarinah sangat beda konsepnya dengan pusat perbelanjaan kekinian lainnya di seluruh Indonesia karena masih memegang prinsip bahwa produk yang disajikan adalah hasil UMKM skala kecil hingga menengah.
Pasalnya, tujuan utama pembangunan gedung pusat perdagangan pertama ini adalah untuk membangkitkan perekonomian orang-orang kecil agar produknya dikenal luas hingga mendunia.
Jadi, Gedung Sarinah yang dibangun dari harta pampasan perang Jepang ini tidak hanya sekadar menjadi simbol modernisasi secara fisik, tetapi juga berhasil membangkitkan perekonomian negeri kala itu.
Sebagai informasi, gedung berusia 61 tahun ini sempat terlahap si jago merah sebanyak dua kali, yakni pada tahun 1984 dan 2005.
Meski begitu, pemerintah dari masa ke masa berupaya untuk mempertahankan keotentikan Mall bersejarah di Jakarta ini, sehingga masyarakat dari generasi ke generasi juga ikut terikat memorinya akan perjuangan bangkitnya perekonomian Indonesia.***