Pemerintah Tetap Gaskeun MBG Setelah Keracunan Massal di Kota Bogor, Begini Faktanya!

inNalar.com – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sejatinya menjadi solusi untuk memperbaiki gizi anak-anak Indonesia, justru berujung pada insiden keracunan massal yang tidak terduga dan diganjar dengan status resmi; Kejadian Luar Biasa (KLB) oleh Dinas Kesehatan Kota Bogor.

Menuai atensi nasional, peristiwa keracunan massal di Sekolah Bosowa Bina Insani Bogor menjadi catatan kelam yang tidak bisa dihapus begitu saja dari lembar awal program unggulan MBG.

Kepala BGN, Dadan Hindayana, dalam konferensi pers menyatakan bahwa terdapat temuan laboratorium yang menunjukkan kehadiran dua bintang tamu tak diundang dalam makanan bergizi gratis itu: Salmonella dan Escherichia coli.

Baca Juga: Menciptakan Puisi, Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kurikulum Merdeka Edisi Revisi Kelas 8 SMP Hal. 162

Beliau juga menerangkan, bahwa keracunan ini bukanlah reaksi instan. Katanya, para korban baru mulai merasakan dampaknya satu hari setelah konsumsi, dengan kondisi yang terus memburuk selama beberapa hari berikutnya.

Sebagai respons cepat, BGN langsung menghentikan sementara operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di sekolah yang menjadi titik pusat insiden ini, lho!

Selain inspeksi menyeluruh, mereka juga memperketat protokol standar operasional prosedur (SOP), mulai dari seleksi bahan baku yang kini harus ekstra hati-hati, pemendekan durasi proses, dan hingga pelatihan ulang bagi petugas yang dilakukan setiap dua sampai tiga bulan.

Baca Juga: Membandingkan Majas Metafora, Simile, dan Repetisi dalam Puisi, Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kurikulum Merdeka Kelas 8 SMP Hal.159

Namun, kejadian ini seakan menjadi pengingat pahit bahwa perjalanan menuju generasi sehat tidak selalu mulus.

Di tengah aroma bumbu dapur yang tercampur sorak riuh publik soal keracunan massal, Adita Irawati, selaku Tenaga Ahli Utama Kantor Komunikasi Kepresidenan, langsung turun gunung guna meninjau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Lapas Kelas I Sukamiskin, Bandung.

Dalam peninjauan tersebut, Kepala SPPG Ryan Putra bersama Ahli Gizi Syifa Dzikra Noer Hakim memaparkan betapa rumit dan telitinya proses menjaga kualitas makanan agar tetap “ramah anak.”

Baca Juga: Bab 5 C “Menemukan Pesan dalam Puisi”, Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kurikulum Merdeka Edisi Revisi Kelas 8 SMP Hal. 154

Mereka menjelaskan bahwa pengawasan kualitas bahan baku dilakukan oleh petugas khusus. Tidak hanya itu, penerapan SOP ketat untuk pembelian harian bahan segar, hingga pencicipan langsung dilakukan oleh ahli gizi dan relawan demi memastikan rasa tidak terlalu pedas, asin, ataupun manis.

Semua ini dilakukan agar makanan tidak hanya sehat tapi juga diterima oleh lidah anak-anak yang sensitif.

Makanan kemudian dikemas dalam ompreng tertutup dan diangkut dengan mobil boks ke sekolah, yang mewajibkan para guru untuk mencicipinya terlebih dahulu. Momen ini merupakan langkah ekstra yang menunjukkan perhatian terhadap keamanan makanan hingga sampai ke tangan murid.

Adita menekankan bahwa program MBG bukan sekadar proyek gizi biasa, melainkan pondasi penting dalam visi besar Indonesia Emas 2045.

Oleh karenanya, pengawasan lintas kementerian dan lembaga terus diperketat agar insiden seperti ini tidak terulang dan agar program yang berambisi melibatkan puluhan juta anak ini dapat berjalan efektif tanpa cela.***