
inNalar.com – Jembatan Selat Sunda (JSS) adalah mega proyek infrastruktur yang diwacanakan untuk menghubungkan dua pulau besar di Indonesia.
Gagasan ini pertama kali dicetuskan pada tahun 1960 oleh Prof. Sedyatmo dari Institut Teknologi Bandung sebagai bagian dari visi yang lebih luas bernama Tri Nusa Bimasakti.
Jembatan Selat Sunda dirancang untuk menjadi penghubung antara pulau Sumatera, Jawa, dan Bali. Sejak itu, wacana pembangunan JSS jadi sorotan nasional.
Lebih lanjut, pembangunan JSS seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas, khususnya di Pulau Jawa dan Sumatera.
Menurut jurnal ilmiah yang diterbitkan oleh Universitas Sam Ratulangi, jembatan yang juga diklaim termahal di dunia ini memiliki panjang total 29 km.
JJS akan terdiri dari 5 seksi, di mana 2 seksi terdiri dari jembatan gantung ultra-panjang untuk melangkahi alur laut Kepulauan Indonesia.
Karena memiliki bentang tengah sejauh 2.200 meter, kedua jembatan itu masuk dalam golongan jembatan gantung ultra-panjang, yang ditandai bentang lebih dari 2.000 meter. Adapun bentang sampingnya adalah 800 m.
Pemerintah RI sempat menyetujui proyek Jembatan Selat Sunda, melalui Peraturan Presiden (Perpres) No 86 Tahun 2011.
Diperkirakan dalam Perpres No 86 Tahun 2011, pembangunan jembatan penghubung Jawa-Sumatera bisa menghabiskan Rp 225 Triliun.
Angka tersebut otomatis membuat proyek JSS masuk sebagai jembatan termahal kedua di dunia saat jika benar-benar terwujud.
Selain itu, jembatan penyatu Banten-Lampung juga dipandang sebagai katalis pertumbuhan ekonomi kedua pulau. Potensi dampak ekonomi dari JSS sangatlah besar.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), Pulau Jawa memberikan kontribusi sekitar 57% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia. Sedangkan, Pulau Sumatera hanya berkontribusi sekitar 22%.
Pembangunan Jembatan Selat Sunda diyakini akan memperkuat dinamika ekonomi di kawasan Sumatera.
Walau proyek Jembatan Selat Sunda menjanjikan banyak manfaat, proses perencanaan hingga eksekusinya tak lepas dari tantangan yang rumit.
Salah satu hambatan utamanya berasal dari karakteristik alam Selat Sunda yang terus berubah dan tidak mudah diprediksi.
Mengutip Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral yang diterbitkan oleh Kementerian ESDM, jalur penyebrangan Merak-Bakauheni di Selat Sunda terdapat tiga gunung api purba, yaitu Gunung api purba Harimaubalak, Kandangbalak dan Sangiang.
Letak ketiga gunung api ini membentuk garis lurus berarah barat laut-tenggara, yang lebih ke tengara juga segaris dengan gunung api tua Gunung Gede di Merak, Banten.
Zona lemah tempat munculnya gunung api itu masih merupakan bagian dari Sistem Sesar Sumatera yang masih aktif.
Selain itu, keberadaan gunung anak Krakatau yang masih aktif juga menjadi perhatian khusus dalam perencanaan Jembatan Selat Sunda.
Tantangan lain yang tidak kalah penting adalah aspek finansial. Pembangunan JSS membutuhkan investasi yang sangat besar diperkirakan mencapai Rp 225 triliun.
Besarnya investasi ini memerlukan skema pendanaan yang komplek, melibatkan berbagai pihak termasuk pemerintah dan swasta.
Beberapa tantangan yang ditemui ini, membuat JJS berujung mangkrak. Hal ini bisa dilihat dari arah kebijakan Presiden ke-7 Indonesia, Jokowi.
Proyek Strategis Nasional (2014-2024) gagasan Jokowi, tidak terlihat JJS masuk dalam daftar prioritas, kendati pemerintah gencar membangun infrastruktur jembatan, jalan tol hingga bendungan.
Begitu juga di masa pemerintahan Prabowo (2024-2029) yang berfokus pada penguatan ketahanan pangan dan energi.
Tentu, hal ini membuat JJS tak lagi masuk sebagai mega proyek nasional meskipun sudah dirancang anggaran Rp 225 triliun, dan hampir Indonesia punya jembatan termahal di dunia.