

inNalar.com – Biro Politik Hamas dengan tegas membantah adanya ruang negosiasi dan pertukaran sandera dengan Israel sampai ada gencatan senjata di Gaza.
Pernyataan Kepala Biro Politik Hamas itu bertentangan dengan klaim Menteri Pertahanan Israel Yoav Gallant.
Pada hari Sabtu, Yoav Gallant mengatakan bahwa Hamas menolak untuk melepaskan 17 wanita dan anak-anak yang ditawan oleh kelompok tersebut.
Dilansir inNalar.com dari Indiatoday, baku tembak berdarah kembali terjadi ketika gencatan senjata sementara antara Hamas dan Israel berakhir.
Diketahui bahwa gencatan senjata sementara antara Hamas dan Israel berakhir rumit pada hari Jumat 1 Desember 2023.
Pihak Hamas dan Israel saling menuduh satu sama lain melanggar perjanjian yang telah diperpanjang.
Gencatan senjata selama tujuh hari antara Hamas dan Israel menyebabkan puluhan sandera Israel ditukar dengan lebih dari 200 tahanan Palestina.
Kemudian, menyusul kegagalan gencatan senjata sementara dan pertempuran baru.
Pasukan Israel pun kembali menggempur daerah kantong atau daerah Gaza, Palestina.
Sisa sandera yang masih ditawan Hamas adalah tentara dan veteran.
Berakhirnya gencatan senjata tersebut, Wakli Presiden AS Kamala Haris memberikan komentarnya.
Kamala Harris mengatakan terlalu banyak warga Palestina yang tidak bersalah terbunuh di Gaza.
Selain itu, Harris mengatakan Israel mempunyai hak untuk membela diri, namun hukum kemanusiaan internasional harus dihormati.
Komunitas internasional harus mendedikasikan sumber daya yang signifikan untuk mendukung pemulihan jangka pendek dan jangka panjang di Gaza.
Hal tersebut bisa dilakukan dengan membangun kembali rumah sakit dan perumahan, memulihkan listrik dan air bersih serta memastikan toko roti dapat dibuka kembali dan diisi kembali.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi