
inNalar.com – Berada di lokasi sejuk, kira-kira 1,5 jam dari Kota Bandung, tepatnya di Kecamatan Pangalengan, ada jejak megaproyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) terbesar se-Jawa Barat.
Tidak hanya menjadikannya bagian dari ambisi megaproyek terbesar Hindia Belanda pada zamannya, PLTA ini juga terabadikan sebagai infrastruktur air tertua di Jawa Barat.
Satu fakta menarik yang dimiliki oleh infrastruktur ini, dahulu sebelum ambisi para kolonialis Hindia Belanda merealisasikan proyek ini peruntukan lahan yang digunakan rupanya adalah peternakan sapi.
Baca Juga: Desa Tertua di Banyuwangi, Eks Pemukiman Mewah Belanda di Ketinggian 600 Mdpl Lereng Gunung Merapi
Pada tahun 1918, Karesidenan Priangan memang disebut-sebut merasa urgen untuk membuat sebuah danau buatan untuk menerangi kotanya yang gelap gulita.
Dengan dibuatkannya danau buatan, akhirnya PLTA Plengan di daerah Pangalengan, Jawa Barat ini pun berhasil dibangun dan beroperasi pada tahun 1922, menyadur dari YouTube Jejak Siborik.
Kemegahan megaproyek pembangkit listrik Plengan pun terekam dalam sebuah laporan penelitian Badan Arkeologi Bandung (Hermawan, 2012: 201).
Dalam pelaporannya, Perusahaan Tenaga Air Negara Dataran Tinggi Bandung (Landis waterkrafcht Bedijf Bandung en Electricitieit) progreskan megaproyek ini, membangun, dan mulai mengoperasikan pembangkit listrik terbesar dan tertua di Jawa Barat ini pada tahun 1923.
Kapasitas pendukung infrastruktur ini berukuran 3 x 1.050 kW. Keberadaan infrastruktur ini dibersamai dengan tersebarnya beberapa pembangkit listrik lain di sekitarnya.
Mulai dari pembangkit listrik Bengkok dengan kapasitas serupa dengan Plengan, infrastruktur air Dago sebesar 1 x 700 kW tepat di daerah aliran Sungai Cikapundung, dan Lamajan (2 x 6.400 kW).
Baca Juga: WASPADA! Hasil Riset: Terlalu Sering Nonton Anomali Brainrot Buat Kecerdasan Otak Anak Menurun
Oleh karena itu, pembangkit listrik Plengan dinobatkan menjadi PLTA dengan kapasitas terbesar se-Hindia Belanda pada zamannya.
Tidak berhenti di situ, pengembangan infrastruktur pun tetap dilakukan dengan cara menambah 1 unit berkapasitas 1 x 2,5 W.
Keistimewaan pembangkit listrik ini salah satunya adalah sumber aliran utamanya yang diambil langsung dari Sungai Cisangkuy sepanjang 51,14 kilometer dan Sungai Cisarua.
Ditambah lagi dengan adanya pintu air tambahan yang diambil dari Situ Cileunca melalui saluran air Pulo dan Palayangan, sebagaimana dilansir dari laporan penelitian yang ditulis oleh ZN.Risman pada Maret 2019.***