
inNalar.com – Politikus Ade Armando secara resmi ditunjuk sebagai Komisaris PLN Nusantara Power. Lantas apa kompetensinya sehingga boleh menduduki jabatan strategis?
Ade Armando sah menjadi Komisaris PT PLN Nusantara Power. Hal itu berdasarkan Keputusan Pemegang Saham di luar Rapat Umum Pemegang Saham (Sirkuler) pada 28 Juni 2025.
Dalam dokumen tersebut juga menyebutkan beberapa nama lain; Edi Srimulyanti (Komisaris Utama merangkap Komisaris Independen) dan Suharyono (Komisaris).
Pengangkatan Ade Armando ini mengejutkan masyarakat. Bukan apa-apa, sosoknya memang dikenal kontroversial di media sosial.
Baca Juga: Menakar Kemungkinan Prabowo Reshuffle Menteri UMKM Buntut Viralnya Surat Berkop Kementerian UMKM
Salah satunya, ia pernah terseret isu penistaan agama dengan menyebut Allah bukan orang Arab. Akibatnya, Ade dilaporkan oleh Johan Khan ke Polda Metro Jaya tahun 2016.
Pernyataan mantan dosen Universitas Indonesia (UI) itu dituliskan melalui laman Facebook dan X (dulu Twitter)-nya dengan nama akun @adearmando1.
“Allah kan bukan orang Arab. Tentu Allah senang kalau ayat-ayatnya dibaca dengan gaya Minang, Ambon, Cina, Hiphop, Blues,” tulisnya kala itu.
Alhasil, Ade Armando resmi ditetapkan sebagai tersangka penistaan agama oleh Polda Metro Jaya pada 25 Januari 2017.
Daftar kontroversi pria kelahiran 1961 tersebut tak berhenti sampai situ. Sedikitnya masih ada 6 kontroversi lain yang terekam di media sosial.
Terakhir kali, sosok Ade Armando viral usai dikeroyok oleh massa demo pada 12 April 2022 di depan gedung DPR RI.
Sosoknya memang menjadi bulan-bulanan warganet. Kritiknya yang tajam hingga serampangan soal isu sensitif kerap menjadi pemicunya.
Kini, Ade Armando resmi menduduki jabatan strategis, perlu diformulasikan strategi komunikasi yang lebih humanis dan dapat diterima khalayak secara luas.
Pasalnya, tindak tanduk seorang pejabat negara mencerminkan wajah kepemimpinan Presiden, khususnya era Prabowo sekarang.
Sebagai komisaris PT PLN Nusantara Power, ia bertugas melakukan pengawasan terhadap kebijakan dan pelaksanaan operasional perusahaan yang dijalankan direksi.
Lebih dari itu, Ade akan bertanggung jawab memastikan PT PLN Nusantara Power berjalan sesuai perundang-undangan dan tujuan perusahaan tercapai di masa mendatang.
Ade Armando merupakan keluarga perantau Minangkabau pasangan Mayor Jus Gani dan Juniar Gani. Ia anak bungsu dari tiga bersaudara.
Ayahnya adalah seorang diplomat yang terpaksa harus turun setelah terkena dampak runtuhnya pemerintahan Soekarno.
Jus Gani sendiri pernah menjadi atase di KBRI Maroko dan Filipina. Setelah dipecat dari militer, ayah Ade Armando merantau membawa keluarganya ke Malaysia.
Di sana, Ade Armando sempat dipermalukan oleh seorang guru karena tidak bisa berbahasa Inggris. Hal ini yang memotivasinya untuk belajar bahasa hingga bisa berbahasa Inggris dengan lancar.
Keluarganya kemudian kembali ke Indonesia dan menetap di Bandung pada tahun 1968.
Diketahui, Ade sempat mengenyam pendidikan di SD Banjarsari I Bandung hingga tahun 1970. Setelah tamat, ia bersekolah di SMP Negeri 2 Bogor dan lulus pada tahun 1980.
Setelahnya, eks dosen UI ini melanjutkan pendidikan di SMAN 2 Bogor serta lulus di tahun 1980.
Ade Armando kemudian berkuliah di FISIP UI untuk menjadi diplomat. Namun, nilai mata kuliah pengantar politiknya rendah, ia pindah jurusan ke komunikasi.
Di kampus, ia aktif dalam kegiatan pers mahasiswa dan mengaku sempat berjualan rempeyek untuk menutupi uang kuliahnya.
Dia belajar menjadi wartawan dari Rosihan Anwar dan Masmimar Mangiang. Ade Armando lulus sarjana komunikasi dan meraih gelar doktorandus pada 1988.
Selanjutnya, ia meraih gelar master of science dalam population studies dan Universitas Negeri Florida pada tahun 1991.
Gelar doktornya lalu diterima dari Universitas Indonesia pada tahun 2006.
Jika mengacu pada rekam pendidikan Ade Armando, ia memiliki profil akademik yang di bidang komunikasi dan studi kependudukan.
Latar belakang ini mencerminkan kapabilitas dalam analisa sosial, komunikasi publik dan pengelolaan isu strategis.
Kendati begitu, tidak ditemukan background pendidikan Ade maupun pengalaman profesional yang berkaitan dengan sektor energi, manajemen korporasi, atau kebijakan industri strategis nasional.
Hal ini menimbulkan pertanyaan relevansi atas penunjukkan Ade Armando sebagai komisaris PT PLN Nusantara Power.
Penunjukkan komisaris BUMN semestinya berpijak pada prinsip meritokrasi, di mana keahlian teknis dan pengalaman sektor menjadi rujukan utama.
Dalam konteks Ade Armando, rekam akademiknya memang impresif dalam bidang ilmu sosial, tetapi belum cukup menunjukkan korelasi kuat dengan kebutuhan spesifik di sektor energi strategis nasional.
Pengangkatan Ade Armando jadi Komisaris rawan dipersepsi sebagai keputusan politis bukan teknokratis.
Jangka panjangnya, hal ini bisa mengikis kepercayaan masyarakat terhadap profesionalisme dan tata kelola BUMN yang akuntabel.
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi