

inNalar.com – Pulau Sumba di Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan pulau yang sangat kaya akan peninggalan tradisi megalitik yang berlanjut.
Situs-situs megalitik yang terdapat di Pulau Sumba antara lain berbentuk kubur batu dolmen (reti), batu tegak (penji), arca megalitik (megalithic statue), susunan batu temu gelang (stone enclosure) hingga teras berundak.
Adapun sebuah Kampung Adat di Pulau Sumba di mana disana masih terdapat peninggalan megalitik.
Baca Juga: Bunga 1 Persen per Bulan, Segini Penghasilan Minimal Guna Ajukan Pinjaman BCA Personal Loan
Kampung adat tersebut dikenal dengan nama Desa Adat Tarung dan berlokasi di wilayah Sumba Barat.
Kampung ini berada di wilayah perbukitan dengan ketinggian 462 meter di atas permukaan laut, dengan kemiringan lereng yang cukup curam.
Kampung Tarung adalah sebuah komplek perkampungan yang terdiri dari beberapa kampung tradisional.
Kampung Adat Tarung terdiri dari Kampung Tarung, Kampung Waitabar, Kampung Bela Kiku, Kampung Kabatana dan Kampung Ngora Tuku.
Pola pemukiman masyarakat Kampung Tarung tidak memiliki pola tertentu dan lebih memperhatikan topografi setempat.
Peletakan rumah di Kampung Tarung menghindari menghadap timur dan barat.
Peletakan rumah yang menghadap timur dan barat diyakini penghungi rumah dapat susut dan akan menjadi panas, serta mendatangakan bahaya.
Keberadaan Kampung Tarung tidak terpisahkan dengan persebaran bangsa dan budaya Austronesia.
Bangsa Austronesia memiliki kemampuan dalam menguasai pembuatan perahu dan tentang perbintangan.
Hal tersebut memungkinkan mereka untuk menjelajah sebagian besar Benua Asia Tenggara, termasuk ke Pulau Sumba.
Tradisi megalitik yang masih dilestarikan di Kampung Tarung saat ini adalah jendela penting untuk mengungkap dan merekonstruksi kehidupan manusia prasejarah serta budayanya.
Tradisi tersebut memberikan kontribusi besar dalam upaya merekonstruksi kehidupan dan budaya masyarakat masa lalu di Pulau Sumba.***