

InNalar.com – Jawa Barat saat ini tengah dalam penggarapan mega proyek besar-besaran.
Mega proyek yang tengah digarap itu adalah Pelabuhan Patimban yang akan digarap dalam kurun waktu hampir 10 tahun.
Bahkan penggarapan proyek itu pun sampai memperhatikan kesejahteraan nelayan untuk ke depannya.
Disebut besar-besaran, hal itu juga dikarenakan Patimban nantinya akan jadi tempat kapal berlabuh terbesar di Indonesia.
Mungkin disebut jadi yang terbesar cukup sesuai dengan anggaran yang dikucurkan untuk membangun infrastruktur ini.
Dilansir InNalar.com dari KPPIP, dalam membangunnya anggaran yang diperlukan adalah Rp 43,221 Triliun.
Baca Juga: Jadwal BWF World Tour Finals 2023 Hari Ketiga: Big Match Anthony Ginting vs Viktor Axelsen
Sementara itu, pembangunan proyek ini sendiri juga terbagi menjadi 3 tahap.
Pada saat ini yang baru selesai hanyalah tahap 1-1 sehingga pelabuhan di Jawa Barat itu sudah beroperasi sebagian.
Sedangkan untuk tahap selanjutnya, yaitu tahap 1-2, tahap 2 dan tahap 3 masih dalam pengerjaan yang akan rampung di tahun 2027.
Baca Juga: Habiskan Dana Rp151,6 Miliar, Jokowi Resmikan 3 Terminal Modern Jelang Akhir Masa Jabatan
Selama pembangunan ini dilakukan, bahkan pemerintah juga sampai memperhatikan nelayan sekitar.
Pasalnya, Budi Karya Sumadi selaku Menteri Perhubungan juga telah memasikan agar para pelaut di sekitar proyek tersebut tidak akan terkena dampak.
Tidak hanya dihindarkan agar tidak terkena dampak, bahkan terdapat rencana untuk diadakan kerja sama antar para perusahaan agar membentuk koperasi usaha bersama.
Jadi dengan adanya rencana tersebut, maka nantinya akan membuat para nelayan juga diberikan bantuan berupa kapal dengan muatannya yang lebih dari 15GT.
Dengan bantuan itu, maka membuat para pelaut dapat menuju ke laut dengan jangkauan jarak yang lebih jauh.
Selama ini diketahui permasalahan yang dimiliki warga sekitar pelabuhan Patimban sendiri adalah karena kurangnya modal agar bisa melaut ke wilayah yang lebih jauh.
Baca Juga: Bagas-Fikri Ungkap Biang Kerok Kalah Memalukan di BWF World Tour Finals 2023
Sedangkan kebanyakan pelaut di daerah itu kebanyakan selalu melaut di pinggiran yang tidak jauh dari lepas pantai.
Perlu diketahui, untuk dapat berlayar ke tengah laut memang sebenarnya memerlukan kemampuan tertentu, sehingga pelaut itu harus terbiasa sekaligus memiliki pelatihan yang cukup.
Itulah yang membuat nelayan di Patimban tidak pernah ke laut, ditambah kurangnya modal dan alat-alat yang baru.
Adapun dalam mengatasi hal tersebut, terdapat program dari Pusat Pengembangan SDM Perhubungan Laut yang disalurkan melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Pendidikan dan Pelatihan Transportasi Laut (BP2TL) Jakarta yang memberikan dampak positif bagi orang-orang di Patimban.
Karena bagi para pelaut yang terkena dampak mega proyek pelabuhan Patimban, maka akan diberikan program pemulihan mata pencaharian dengan memberikan keterampilan, pengetahuan serta kemampuan.
Program ini tentunya akan diutamakan untuk para pelaut di sekitar Patimban yang terkena dampak.
Baca Juga: Gregoria Mariska Tunjung Gagal Lolos ke Semifinal BWF World Tour Finals 2023, Ini Alasannya!
Jadi dengan adanya program ini, maka kompetensi dan keterampilan para pelaut nantinya dapat ditingkatkan.
Sehingga pada peningkatan itu juga akan membuat taraf hidup meningkat, termasuk untuk membudayakan keselamatan bertransportasi.
Bagi yang mengikuti diklat, tentunya tidak akan dikenakan biaya apapun atau gratis.
Baca Juga: Benarkah Milenial dan Anak Muda Sulit Beli Rumah? Cek Dulu 5 Tips Efektif Tentang Keuangan Ini!
Karena diklat itu diikuti sebanyak 416 orang yang nantinya diberikan materi berupa Pengetahuan dasar atau Basic Safety Training Kapal Layar Motor.
Karena Indonesia juga semakin maju di bagian maritimnya, diharapkan para nelayan mampu memahami dan memiliki kesempatan yang lebih luas untuk bekerja dan membuka usahanya. ***