Terancam Ditinggal Rusia, Nasib Megaproyek Kilang Minyak Rp238 Triliun di Tuban Jawa Timur Ini Bakal Kandas?

inNalar.com – Pemerintah RI tampak sedang menyoroti Proyek Kilang Minyak di Tuban, Jawa Timur.

Rupanya perhatian ini bermula dari munculnya sinyal dari mitra perusahaan minyak raksasa Rusia, Rosneft, yang diduga bakal ‘cabut’ dari kerja sama pembangunan kilang minyak di Tuban ini.

Sebagaimana dahulu Rosneft direncanakan sejak November 2017 lalu, proyeksi ke depannya bakal ada pembangunan infrastruktur ini bersama PT Pertamina (Persero).

Baca Juga: IHSG Berhasil Sentuh Level Tertinggi dalam 1 Tahun Terakhir, Berada di Angka…

Wujud kerja samanya pun dituangkan dalam bentuk perusahaan bernama PT Pertamina Rosneft Pengolahan dan Petrokimia (PRPP).

Namun seiring berjalannya waktu, tanda-tanda mundurnya Rosneft ini ditangkap oleh Pemerintah RI

Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengungkap bahwa proyek kilang minyak di Tuban ini tengah memasuki tahap evaluasi.

Baca Juga: Stasiun MRT Mengalami Perubahan Nama Menjadi ‘Senayan Mastercard’, Nilai Hak Penamaannya Fantastis

Di samping itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto pun menjelaskan lebih detail mengenai langkah khusus terkait ancang-ancang Pemerintah RI terhadap kilang minyak ini.

Menurutnya, ancang-ancang mencari mitra baru perlu menjadi perhatian pihak yang terlibat dalam rencana pembangunan infrastruktur raksasa ini.

Lebih dalam lagi diungkapkan oleh Airlangga Hartarto bahwa hal ini mengingat Rusia sendiri tengah menghadapi berbagai keterbatasan akibat konflik geopolitik.

Baca Juga: Kontrak Brantas Abipraya Senilai Rp90,4 M, Kementerian PUPR Dukung Pengembangan Food Estate Humbahas di Sumatera Utara dengan Bangun Fasilitas Ini!

Meski target penyelesaiannya masih di tahun 2026, tentu situasi konflik geopolitik tetap harus menjadi kewaspadaan pemerintah guna mewujudkan realisasi Kilang Minyak Tuban sesuai target selesainya.

Tentu yang menjadi pertanyaan adalah, akankah proyek ini akan dilanjutkan oleh Pemerintah RI?

Seorang pengamat ekonomi energi Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, mengungkapkan pandangan pesimis terkait keberlanjutannya proyek ini.

Baca Juga: Bulutangkis Jepang dalam Bencana, 2 Ganda Putri Alami Cedera Jelang Olimpiade Paris 2024

Menurutnya, Pertamina dinilai bakal sulit untuk menarik minta mitra baru lantaran tren global mulai bergeser pada sumber energi bersih ramah lingkungan.

Namun melansir dari situs, Kepala Staf Kepresidenan, Jenderal TNI (Purnawirawan) Moeldoko menekankan bahwa megaproyek di Jawa Timur ini sangat potensial, bahkan strategis.

Hanya saja butuh dilakukan evaluasi terhadap jalannya proyek tersebut. Tidak dapat dipungkiri bahwa persoalan pendanaan rencana pembangunan PSN ini perlu disorot.

Baca Juga: Gerus Anggaran hingga Rp22 Triliun, Smelter Tembaga di Sumbawa Barat Ini Memiliki Kapasitas 120 Ribu Ton per Hari

Namun menangkap situasi panas politik yang berpotensi pengaruhi sektor energi juga perlu menjadi bagian yang penting untuk dikaji oleh Pemerintah RI sebagai ancang-ancangnya.

Merespon situasi ini pihak Pertamina diketahui akan berdiskusi lebih lanjut dengan perusahaan minyak raksasa Rusia untuk mencari solusi terkait kendala pendanaan ke depannya.

Adapun menurut data yang dilansir dari situs KPPIP, megaproyek raksasa Tuban ini diketahui membutuhakan total investasi sebesar Rp238.257 triliun.

Komposisi pendanaannya terdiri dari sumber APBN dan APBD sejumlah 151.800 triliun, sedangkan dari pihak swasta diproyeksikan porsinya sebesar Rp86,457 triliun.***

Rekomendasi