

inNalar.com – Bali merupakan salah satu daerah dengan objek wisata yang sudah terkenal tidak hanya di kalangan masyarakat Indonesia, tapi juga di kalangan warga manca negara.
Sebagai provinsi yang terkenal dengan sektor pariwisatanya, tidak mengherankan jika kebutuhan air di Bali terus bertambah seiring berjalannya waktu.
Oleh karena itu, pembangunan bendungan sebagai penyuplai air baku tentu sangatlah penting.
Sebagai contohnya adalah infrastruktur penyuplai air ini yang berada tidak hanya di satu wilayah kabupaten saja, namun, tiga kabupaten sekaligus.
Waduk dengan luas mencapai 81,81 hektare ini terletak di Kabupaten Badung, Bangli, dan Gianyar.
Pembangunan infrastruktur penyedia air ini sudah dimulai sejak tahun 2018 silam dan masih berjalan hingga saat ini.
Dengan wilayah yang begitu luas, infrastruktur ini dibangun dalam dua tahap, yakni paket I yang sudah selesai pada 2021 lalu dan paket II yang pelaksanannya baru dimulai pada tahun 2022 dengan target selesai pada tahun 2024.
Pengerjaan megaproyek bendungan di Bali pada tahap I yang sudah rampung tersebut meliputi pembangunan jalan akses kerja, terowongan pengelak, dan pekerjaan proteksi tebing.
Sedangkan, untuk paket II mengerjakan penyelesaian tubuh dari infrastruktur ini dan spillway (saluran pelimpah).
Terdapat hal menarik dalam pembangunan waduk di provinsi yang terkenal dengan pariwisatanya ini. Salah satunya adalah bahan yang dipakai dan tipe spillway yang digunakan.
Dilansir dari akun Youtube KemenPUPR, pembangunan infrastruktur penampungan air ini dibangun dengan menggunakan inti aspal.
“Untuk Bendungan Sidan ini memiliki keistimewaan, salah satunya adalah inti aspal,” ucap I Gede Pancarasa selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Bendungan Sidan BWS Bali Penida.
Tujuan dari pemilihan inti aspal yang digunakan dalam proyek bendungan ini adalah karena kelebihannya yang memiliki fleksibilitas tinggi dan lebih tahan terhadap gempa.
Selain penggunaan inti aspal, Bendungan Sidan di Bali juga menggunakan sistem pelimpah atau spillway dengan tipe gergaji.
Pemilihan tipe yang baru pertama kali diterapkan di Indonesia ini bertujuan untuk meningkatkan daya tampung kurang lebih 300 meter kubik.
Pembangunan infrastruktur penampungan air di provinsi yang terkenal dengan pariwisatanya ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan air di kawasan Sarbagita (Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan) sebesar 5 meter kubik per detik.
Waduk yang masuk ke wilayah tiga kabupaten sekaligus ini nantinya akan memiliki kapasitas tampung sebesar 3,8 juta meter kubik dan dapat mengalirkan air baku sebesar 1.750 liter per detik.
Sedangkan, pembagian per wilayahnya adalah sebagai berikut sebanyak 750 liter/detik untuk Kota Denpasar, 500 liter/detik untuk Kabupaten Badung, 300 liter/detik untuk Kabupaten Badung, 300 liter/detik untuk Kabupaten Gianyar, dan 200 liter/detik untuk Kabupaten Tabanan.
Selain untuk mengalirkan air ke rumah-rumah warga dan pariwisata, waduk ini juga memiliki potensi sebagai Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro dengan kasipatas 0,65 MW.
Tidak hanya itu, penampungan air ini nantinya juga akan dimanfaatkan dalam hal pariwisata dan sebagai konservasi air.
Adapun anggaran yang dihabiskan untuk membangun Bendungan Sidan di Bali ini adalah kurang lebih Rp1,8 triliun.
Sedangkan untuk rinciannya adalah Rp808,6 miliar untuk pembangunan paket I, Rp864,7 untuk pembangunan paket II, dan Rp132,8 untuk biaya pembebasan lahan.
Selain Bendungan Sidan, Pemerintah juga membangun Bendungan Tamblang sebagai upaya pemenuhan kebutuhan air baku masyarakat Bali.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi