

InNalar.com – Diklaim jadi yang terbesar, megaproyek bendungan Mbay Lambo digadang-gadang jadi strategi besar Pemerintah agar dapat mencapai ketahanan pangan dan kedaulatan pangan nasional.
Infrastruktur ini sendiri berada di Nusa Tenggara Timur (NTT), yang tepatnya berada di Kabupaten Nagekeo.
Selain masuk di bagian proyek strategis nasional (PSN), ternyata pembangunan tempat penampungan air ini juga disebut juga dengan megaproyek.
Sebab dalam membangun tempat penampungan air ini saja membutuhkan biaya yang fantastis, karena cukup banyak.
Walaupun, ternyata pembangunannya sendiri sebenarnya memakan waktu yang dapat dibilang cukup lama.
Bagaimana tidak, infrastruktur ini saja sudah dibangun sejak 1999, dan hingga kini belum rampung.
Baca Juga: Rogoh Kocek Rp8,3 Triliun, Konglomerat Migas Indonesia Akuisisi 20 Persen Saham 2 Blok Migas di Oman
Namun, sejak tahun 2021 akhirnya bendungan Mbay Lambo ini akan dibangun yang bahkan sampai sempat diperiksa oleh Presiden Jokowi dan Menteri PUPR Basuki pada awal Desember lalu.
Berdasarkan sejarahnya, pembangunan infrastruktur di NTT ini pada tahun 2001 dan 2002 baru memasuki detail desain.
Setelah 22 tahun menanti akhirnya kontrak pembangunan pada infrastruktur ini telah dikerjakan.
Baca Juga: Daftar Pebulutangkis Top yang Absen di Indonesia Masters 2024: Ada Viktor Axelsen hingga An Se-young
Adapun pengerjaan megaproyek ini sendiri dikerjakan melalui 2 paket pengerjaan, dengan PT Waskita Karya (Persero) Tbk – Bumi Indah (KSO), mengerjakan Paket I.
Sedangkan untuk paket II dikerjakan oleh PT Brantas Abipraya.
Dilansir InNalar.com dari PUPR, kontrak untuk pembangunan yang mulai dikerjakan tahun 2021 ini menghabiskan dana sebanyak Rp 1,47 triliun.
Akan tetapi, walau pembangunan pada bendungan Mbay Lambo ini sendiri telah dimulai sejak 1999, namun progresnya pada akhir tahun ini masihlah cukup jauh dari penyelesaian.
Karena berdasarkan informasi yang dipaparkan situs Pekerjaan Umum itu, saat ini baru mencapai 27%.
Walau begitu, namun target untuk penyelesaian infrastruktur ini nantinya akan rampung pada tahun 2025.
Mungkin satu faktor yang membuat progres pembangunan tempat air ditampung ini lama juga karena diclaim akan jadi yang terbesar.
Pasalnya infrastruktur ini sendiri luasnya adalah 499,5 hektar dan nantinya juga akan difungsikan untuk mengaliri lahan pertanian warga sekitar.
Saat sudah beroperasi, nantinya bendungan Mbay Lambo ini akan digunakan untuk mengaliri lahan seluas 4.200 hektar di Kabupaten Ngagekeo.
Karena itulah presiden Jokowi juga berharap agar produksi beras di Kabupaten Ngagekeo itu dapat meningkat hingga 250%.
Sekedar informasi, NTT merupakan satu daerah di Indonesia yang memiliki curah hujan yang rendah.
Karena itu, sebenarnya suplai air memang cukuplah penting untuk warga di daerah tersebut agar hasil pertaniannya dapat meningkat.
Baca Juga: Ini Tren Belanja Akhir Tahun, Transaksi Produk Fashion Meningkat 6X Lipat dan Beauty 8X Lipat
Memiliki luas 499,5 hektar, infrastruktur ini memiliki kapasitas tampung hingga 51,74 juta m3.
Jadi dengan diklaim bakal jadi yang terbesar, karena itulah tempat penampungan air ini direncanakan agar bisa mengaliri Irigasi di daerah Kanan dan Kiri hingga mencapai 6.100 hektar.
Selain digunakan untuk mengaliri irigasi di lahan warga, tempat penampungan air ini juga dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan air baku warga Nagekeo.
Hal itu karena bendungan Mbay Lambo ini sendiri mampu memenuhi kebutuhan air baku hingga 205 liter/detik. ***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi