

inNalar.com – Sebuah perusahaan batu bara kenamaan di Maluku Utara, PT Harum Energy Tbk, tampak getol melakukan diversifikasi usaha melalui pembelian saham.
Upaya tersebut terlihat saat Harum rela kuras 70,3 juta USD atau setara dengan Rp1,09 triliun demi akuisisi saham PT Infei Metal Industry (IMI).
Melalui anak usahanya, PT Tanito Harum Nickel (THN) dan PT Harum Nickel Perkasa (HNP) masing-masing telah mencaplok 50,999% dan 0,001% saham milik IMI.
Baca Juga: Shopee Live dan Shopee Video Jadi Fitur Favorit Pengguna-Penjual di Shopee 12.12 Birthday Sale
Artinya, status kepemilikan saham yang telah berpindah ke emiten batu bara ini sebesar 51%.
Sebagai informasi, IMI merupakan emiten yang bergerak di bidang pertambangan pemurnian dan pengolahan nikel.
Smelter nikel garapan perseroan yang diakuisisi ini diketahui berada di Indonesia Weda Bay Industrial Park, Maluku Utara.
Upaya diversifikasi usaha melalui investasi di bidang nikel berhasil membuat Harum catatkan peningkatan kepemilikan saham di emiten berbasis nikel, IMI.
Namun demikian, kondisi keuangan Harum Energy sendiri tampak sedang mengalami tekanan pada tahun 2023.
Pasalnya menurut data laporan keuangan kuartal III, ternyata pendapatan Harum setahun terakhir menyusut.
Apabila di tahun 2022 pendapatan yang diraih mampu menembus 702,7 juta USD, tetapi sayangnya di tahun ini perusahaan hanya mampu menembus 642,4 juta USD.
Hal ini seiring pula dengan terjadinya penurunan laba yang cukup drastis, jika tahun sebelumnya torehan profit mampu mencapai 301,3 juta USD.
Namun di tahun selanjutnya emiten berbasis di Maluku Utara ini hanya mampu catatkan laba 144,9 juta USD.
Lantas, bagaimana pula dengan kondisi beban keuangan perusahaan Harum setahun terakhir?
Getolnya perusahaan mengakuisisi emiten nikel dengan nilai fantastis ini rupanya di samping itu perusahaan ini tampak tengah berjuang untuk menunaikan kewajiban pembayaran utang.
Hal ini terlihat dalam data laporan keuangan per September 2023 yang mencatatkan pihaknya masih memiliki beban utang usaha sebesar 92,7 juta USD.
Baca Juga: 4 Emiten Blue Chip Ini Makin Menarik Gara-gara Santa Claus Rally, Apa Saja?
Nominal tersebut cukup meroket dari perkembangan catatan utang usaha di tahun 2022 yang hanya tercatat 20,2 juta USD.
Artinya dalam setahun terakhir terdapat kenaikan beban utang usaha yang mencapai 350% lebih.
Namun demikian, terlihat kewajiban utang pajak cenderung menurun signifikan dari yang semula 75,2 juta USD di tahun sebelumnya.
Pada tahun ini Harum berhasil menyisakan beban utang pajak hingga 13,8 juta USD.
Kewajiban perusahaan raksasa di Maluku Utara ini juga diketahui telah berhasil mengurangi utang dividen.
Sehingga sisa kewajiban perusahaan yang harus dibayarkan kepada para pemegang saham 41,6 juta USD.
Meski emiten ini berada di tengah penyusutan pendapatan dan laba, serta meroketnya nilai utang usaha.
Adanya catatan penurunan beban dividen yang terjadi dalam setahun terakhir menunjukkan komitmen kewajiban pembayaran kepada para pemegang sahamnya.
Komitmen menekuni bisnis nikel juga tampak terlihat ketika PT Harum Energy Tbk juga tengah giat memberikan pendanaan kepada dua anak usahanya.
Pihaknya diketahui gelontorkan pendanaan sebesar 300 juta USD untuk PT Harum Nickel Perkasa dan PT Tanito Harum Nickel.
Baca Juga: Menginjak Usia ke-128, Kesuksesan Transformasi Bawa BRI Torehkan Catatan Kinerja Cemerlang
Demikian dinamika ekspansi bisnis perusahaan berbasis batu bara yang tengah melakukan upaya diversifikasi usaha meski berada di tengah tekanan penyusutan pendapatan dan laba, serta peningkatan utang usaha.***
Dapatkan promo spesial sebelum Anda pergi