

inNalar.com – Manuver cantik dilakukan oleh perusahaan milik Low Tuck Kwong, PT Bayan Resources Tbk atau BYAN dalam mendukung cita-cita pemerintah mencapai net zero emission 2060.
Demi memulai komitmen transisi energi bersih, BYAN menjalin kerja sama emiten Singapura yang juga diketahui milik Low Tuck Kwong guna menyewa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Senyiur, Kalimantan Timur.
Sedikit informasi mengenai emiten Singapura ini, PT Metis Solar Energi rupanya juga dikendalikan oleh konglomerat pemilik Bayan Resources.
Pasalnya Low Tuck Kwong juga menggenggam saham emiten tersebut sebesar 33,97 persen pada awal tahun 2023.
Jadi Bayan Resources diketahui telah menandatangani perjanjian sewa pembangkit listrik dengan Metis Solar Energi pada 28 Juni 2023.
Jangka waktu perjanjian sewa infrastruktur energi bersih ini akan dilakukan dalam waktu 20 tahun.
Adapun kapasitas PLTS yang akan digunakan BYAN sebesar 1.497 kilowatt peak (kWp).
Dengan adanya perjanjian sewa ini, dapat diketahui nilai transaksi yang disepakati sebesar 14.700 USD setiap bulannya.
Adapun konsumsi daya energinya sebesar 105.000 kilowatt hour (kWh) setiap bulannya atau setara 0,14 USD per kWh.
Pada tanggal yang sama pula, BYAN merangkul PT Power Kariangau (KP) untuk menjadi pihak yang mengoperasikan dan memelihara PLTS di Senyiu, Kalimantan Timur.
Atas sepengetahuan pihak Metis Solar Energi, Bayan Resources bergerak cantik mengintegrasikan misi transisi energi bersihnya dengan merangkul KP yang juga berada di bawah kendali konglomerat Low Tuck Kwong.
Jadi selama 20 tahun ke depan, PLTS yang disewa dari Metis Solar Energi akan dioperasikan dan dipelihara oleh Kariangau Power.
Dengan harapan apabila seluruh rencana berjalan dengan lancar tanpa aral melintang, maka diperkirakan BYAN mampu efisiensikan 326.737 USD setiap tahunnya.
Lebih dalam lagi, bahkan setiap bulannya diperhitungkan estimasi efisiensi biaya sebesar 27.228 USD per bulan dalam kurun waktu 20 tahun.
Konsolidasi tiga perseroan ini rupanya dilakukan demi mengganti sumber listrik operasional yang selama ini masih menggunakan genset bertenaga diesel.
Realisasi transisi energi bersih ini terwujud dari adanya ekosistem terintegrasi yang dibangun sosok konglomerat Indonesia ini.
Genset bertenaga diesel ini diketahui memakan biaya 0,29 USD per kWh, sedangkan dengan adanya PLTS ini biaya per kWh hanya 0,14 USD saja.
Informasi mengenai perjanjian sewa pembangkit listrik ini diketahui juga tertuang dalam dokumen keterbukaan informasi pada situs Bursa Efek Indonesia.***