Baru Beroperasi 8 Hari, PLTU Sintang di Kalimantan Barat Berhasil Sumbang Listrik dari 150 Ton Cangkang Sawit Per Hari


inNalar.com –
PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mendukung penggunaan biomassa di PLTU Sintang Unit 1 di Kalimantan Barat untuk menggantikan bahan bakar batu bara.

Proses pembakaran atau firing tersebut akan dilakukan oleh PLTU Sintang selama 24 jam non stop selama 20 hari sejak 13 Desember 2023 lalu.

PLN EPI nantinya akan memasok kebutuhan biomassa dengan bahan cangkang sawit dan cacahan kayu atau woodchip.

Baca Juga: Wow! Sultan Tambang NTB Ini Gelontorkan Rp15 Triliun Buat Bangun Smelter Tembaga, Produksinya…

Pihaknya sendiri menyediakan stok sekitar 1.000 ton cangkang sawit dan 250 ton woodchip.

Diketahui PLN EPI saat ini memang menjadi Sub Holding dalam penyediaan energi primer.

Kehadiraannya pun sangat mendukung pelaksanaan firing memakai bahan-bahan biomassa 100 persen.

Baca Juga: Punya Potensi 6 TCF, Perusahaan Energi Asal Uni Emirat Arab Ini Temukan ‘Harta Karun’ Gas Jumbo di Lepas Pantai Sumatera Utara

Adapon pasokan harian yang disediakan mencapai 150 ton cangkang sawit dan juga 15 ton cacahan kayu.

Untuk proses firing sendiri memerlukan sekitar 180 ton total biomassa setiap harinya.

Dengan ketersediaan stok bahan bakar yang telah ada maka prosesnya akan terus dilakukan sampai dengan 2 Januari 2024 mendatang.

Baca Juga: 2 Pentolan Bulutangkis Mundur dari Malaysia Open 2024, Siapa Saja?

PLN EPI menyediakan pasokan bahan bakar tersebut untuk mendukung program transisi energi PLN Grup.

Melansir dari Antara, penerapan bahan biomassa pada hari ke-2 mencatatkan hasil yang positif.

Rata-rata bahan bakarnya turun hingga 10 persen sementara biaya bahan bakar juga berkurang sebanyak 20 persen.

Baca Juga: Nekat Tabung Rp13 Trilun Hasil Jualan Rokok, Konglomerat Asal Jatim Ini Bangun Bandara Internasional Berjarak 2 Jam dari Juanda

Selain itu, terdapat pula penurunan kadar emisi CO2, NOx, serta SOx.

Perlu diketahui juga bahwa PLTU Sintang saat ini merupakan pembangkit listrik tenaga uap yang ada di Kalimantan Barat.

Pendirian pembangkit listrik ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan listrik dengan daya terpasang pembangkitnya sebanyak 3×7 MW.

Baca Juga: Telan Rp17,1 Triliun, 2 PLTA Berkapasitas Jumbo di Sulawesi Tengah Ini Usung Konsep EBT, Pemiliknya Pernah Jadi Wakil Presiden?

Pembangkit ini juga telah beroperasi sejak tahun 2018 lalu

Adanya PLTU Sintang yang memanfaatkan biomassa 100 persen ini diharapkan mampu menjadi contoh dalam emplementasi pengurangan batu bara.

Terlebih bahan-bahan yang dipakai tersebut dapat mengurangi jumlah limbah kelapa sawit agar diolah menjadi energi listrik yang bersih.

Baca Juga: Dibela-belain Utang ke Jepang, Proyek PLTA di Riau Senilai Rp700 Miliar Ini Sulap Arus Sungai Jadi Tenaga Listrik 114 MW per Tahun

Pembangkit tersebut juga akan terus beroperasi memakai bahan bakar biomassa secara kontinyu dengan melihat stok ketersediaan biomassa yang ada.

Berdasarkan hasil riset dari PLTU Sintang, cangkang sawit memiliki kalori senilai 4.100 kcal per kg.

Angka tersebut terbilang jauh lebih tinggi dari kalori batu bara yang hanya mencapai 3.700 kcal per kg.

Baca Juga: Utang Jepang Rp251,9 Miliar, Bandara Bertaraf Internasional di Sumsel Ini Hanya Didanai APBN Separuh Buat Ubah Statusnya

Sedangkan untuk kalori bauran yang dihasilkan pun juga lebih tinggi senilai 3.732 kcal per kg.***

Rekomendasi